Kota-kota besar seperti Jakarta menghadapi tekanan berat pada sumber air bakunya. Pertumbuhan penduduk yang pesat, ditambah aktivitas industri yang kian padat, serta perubahan tata ruang yang tak terbendung, membuat air yang dulu mudah diakses kini rentan tercemar. Akibatnya, masyarakat pun kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Di tengah situasi seperti ini, kehadiran Instalasi Pengolahan Air atau IPA menjadi kian vital. Fasilitas ini tak cuma bertugas menyediakan pasokan air bersih, tapi idealnya juga dirancang dengan konsep zero waste. Tujuannya jelas: agar proses pengolahan air lebih efisien dan ramah lingkungan.
Menangkap kebutuhan itu, Pemprov DKI Jakarta bergerak. Mereka bekerja sama dengan PAM Jaya, BUMD Kota Tangerang Selatan, dan PT PITS untuk membangun IPA Pesanggrahan. Kapasitas produksinya cukup besar, mencapai 750 liter air bersih per detik. Jumlah itu bisa mengaliri sekitar 45.000 sambungan rumah.
Manfaatnya pun tak hanya dirasakan warga Jakarta. Sebanyak 10 kelurahan di Jakarta dan Banten kini menikmati pasokan air bersih dari fasilitas ini. Di antaranya Srengseng, Cipulir, Pesanggrahan, Bintaro, Petukangan Utara, Petukangan Selatan, Ulujami, Meruya Utara, Meruya Selatan, dan Joglo.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menjelaskan progres yang telah dicapai.
"Layanan air bersih sudah mencakup 74,24 persen wilayah Jakarta. Target kami akhir tahun 2025 bisa sampai 80 persen," ujarnya.
Yang menarik, IPA Pesanggrahan tak cuma sekadar mengolah air. Mereka menerapkan sistem zero waste dengan mendaur ulang air pencucian filter dan mengolah lumpur memakai teknologi sludge dewatering. Prosesnya pun dilengkapi dengan online monitoring dan automasi penuh, demi memastikan kualitas dan kuantitas air tetap terjaga.
Bagi Pramono, fasilitas ini lebih dari sekadar infrastruktur biasa.
"Selain menjawab kebutuhan air bersih, (IPA Pesanggrahan) juga membawa dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Komitmen ini sejalan dengan visi besar mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang bersih, sehat, dan berkelanjutan," tambahnya.
Ia juga mengapresiasi langkah PAM Jaya yang terus berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat. Apalagi dengan kehadiran aplikasi LAPOR PAM, yang memungkinkan warga mengakses berbagai layanan dalam satu genggaman mulai dari pelaporan gangguan, pemantauan tagihan, hingga informasi real-time.
Sementara di lapangan, petugas menggunakan PAM LAB untuk menguji kualitas air langsung di lokasi sesuai standar Kemenkes RI.
"Apresiasi ditujukan kepada PAM Jaya yang terus berinovasi dan bekerja keras dalam meningkatkan kualitas serta jangkauan layanan. Kami mendukung transformasi yang dilakukan demi pemenuhan kebutuhan dasar warga, sekaligus memastikan target cakupan 100 persen layanan air perpipaan terpenuhi," tegas Pramono.
Di sisi lain, anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh, menilai kehadiran IPA Pesanggrahan sangat strategis. Menurutnya, ini bisa mempercepat pencapaian target 100 persen layanan air perpipaan pada 2029.
Namun begitu, ia mengingatkan bahwa ketersediaan air baku tetap menjadi kunci. Masyarakat juga perlu berperan aktif menjaga sumber air agar distribusi semakin lancar.
"Selain dari Jatiluhur, kita juga andalkan Waduk Karian, Kali Pesanggrahan, maupun Kalimalang di Buaran. Semua sumber ini harus dioptimalkan," pungkas Nova.
Artikel Terkait
Pemuda di Banyumas Diamankan Usai Diduga Masuk Kos untuk Foto Pakaian Dalam Wanita, Kasus Damai dengan Wajib Lapor
KPK Terbitkan Aturan Anti-Gratifikasi dan Korupsi dalam Penerimaan Murid Baru
Arsenal Siapkan Kaus Khusus untuk Ribuan Suporter di Final Liga Champions Lawan PSG
Kebakaran di RSUD Syekh Yusuf Gowa Tak Timbulkan Korban Jiwa, Dua Gedung Rusak