Di sini pelajarannya jelas: kecerdasan tanpa iman bisa berujung pada kerusakan. Lihat saja Umar sebelum masuk Islam ia bengis. Sama seperti sekarang, ada anak pintar yang tega membunuh orang tuanya. Atau pejabat ber-IPK tinggi yang korupsi.
Sebaliknya, ketika iman atau kecerdasan spiritual yang memimpin, kecerdasan lain akan melesat menghasilkan kebaikan. Umar setelah beriman jadi pribadi yang dicintai dan berpengaruh besar. Iman dalam Islam tidak mematikan potensi, justru mendorongnya sampai ke puncak.
Jadi, sebagai orang tua, kita harus sadar: pondasi utama membangun kecerdasan anak adalah keimanan. Kecerdasan spiritual inilah yang menjadi pengendali.
Dan iman yang paling utama adalah mengenal Allah. Ini harus kita tanamkan sejak dini.
Dengan pondasi itu, kecerdasan intelektual dan emosional anak akan selalu terikat pada aturan Allah. Ia akan semangat menuntut ilmu dan berkarya karena itu perintah-Nya.
Hasilnya? Generasi cerdas yang tak hanya pintar, tapi juga bertakwa.
Elis Irma Ratnasari, Pemerhati Generasi.
Artikel Terkait
Kardinal Suharyo Buka Perayaan Natal DKI dengan Cerita Gembala dan Dua Hewan
Surat Terbuka untuk Gus Yaqut: Saatnya Kembali ke Jalan Islam
KPK Tetapkan Menag Yaqut Tersangka Kasus Kuota Haji
600 Huntara Resmi Diberikan kepada Korban Bencana Aceh Tamiang, Ini Fasilitasnya