Di Indonesia, kanker masih menjadi momok yang menakutkan. Penyakit ini terus berkeliaran, menggerogoti, dan merenggut nyawa, terutama dari kalangan perempuan dan anak-anak. Data Globocan 2020 mencatat dengan pilu: kanker payudara dan endometrium adalah jenis yang paling banyak ditemui dan paling mematikan.
Yang bikin hati miris, anak-anak dan remaja pun tak luput. Bayangkan, di tahun 2025 nanti, diperkirakan 9.550 anak usia 0-14 tahun dan 5.140 remaja berusia 15-19 tahun akan mendengar vonis "kanker" untuk pertama kalinya. Trennya jelas naik, dan secara global, prediksinya malah lebih mencemaskan 35 juta kasus per tahun pada 2050. Angka yang sungguh tidak main-main.
Di sisi lain, ada fenomena yang patut dicermati. Banyak pasien Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri. Alasannya klasik: persepsi bahwa layanan di sana lebih profesional dan teknologinya lebih mutakhir. Hal ini tentu jadi tamparan sekaligus tantangan buat fasilitas kesehatan dalam negeri. Mereka dituntut untuk berbenah, meningkatkan kompetensi dokter, dan memanfaatkan teknologi dengan komunikasi yang lebih baik ke pasien.
Menjawab tantangan itulah, Adi Husada Cancer Center (AHCC) menggelar SYMPONI 2025 atau Surabaya Symposium of Oncology 2025. Simposium ilmiah ini mengusung tema "Multidisciplinary Approach in Women’s and Children’s Oncology". Intinya, mereka ingin memperkuat kapasitas tenaga medis lokal lewat pembaruan ilmu dan diskusi yang melibatkan berbagai disiplin keilmuan.
Yang menarik, tahun ini AHCC berkolaborasi dengan pakar medis dari Malaysia. Acara ini sekaligus menandai perayaan ulang tahun mereka yang ke-8.
General Manager AHCC, dr. Silvia Haniwijaya Tjokro, M. Kes, menyampaikan semangat di balik acara ini.
"Di usia ke-8 ini kami ingin menunjukkan kematangan AHCC dengan membawa konsep 'Tumor Board' ke forum ilmiah. Menangani kanker itu harus 'keroyokan', harus kerja tim," ujarnya di sela acara, Sabtu (22/11).
"Symphony 2025 kami hadirkan sebagai komitmen AHCC untuk memastikan tenaga kesehatan Indonesia selalu mendapat akses terhadap perkembangan ilmiah terkini. Kami percaya bahwa layanan kesehatan yang berkualitas dimulai dari pengetahuan dan kolaborasi yang kuat," sambungnya.
Konsep 'keroyokan' multidisiplin inilah yang menjadi roh acara. Materi disusun agar tajam dan solutif, berbeda dari simposium biasa. Para pembicara yang dihadirkan pun benar-benar ahli di bidangnya. SYMPONI 2025 dibagi dalam tiga tema besar: Global Perspectives in Breast Cancer Care, Advancing Care in Endometrial Cancer, dan Comprehensive Care for Children with Cancer.
Harapannya jelas. Lewat simposium ini, tercipta jejaring rujukan yang lebih kuat dan kolaboratif. Pasien pun bisa dapat perawatan yang tepat waktu dan tepat sasaran. "Selain itu, diharapkan agar para peserta simposium dapat pulang dengan kemampuan menegakkan diagnosis yang lebih tajam dan merancang terapi yang holistik," terang dr. Silvia.
Ia juga menekankan bahwa 'Optimal Healing' yang jadi tema bukan sekadar jargon. Itu adalah target nyata: agar pasien perempuan bisa kembali berdaya dan pasien anak bisa meraih masa depannya lagi.
Di kesempatan yang sama, Virgie Keen, Marketing Manager AHCC, membeberkan program spesial dalam rangka ulang tahun AHCC.
"Melengkapi perayaan sewindu AHCC, berbagai program yang memudahkan para pasien kanker juga dihadirkan, di antaranya program promo free akomodasi dan penjemputan bagi pasien yang melakukan treatment radioteraphy di AHCC. Juga program CSR berupa bantuan bagi pasien yang membutuhkan radioteraphy namun mengalami keterbatasan finansial," ujarnya.
Delapan tahun. Usia yang menandai kematangan AHCC sebagai pusat layanan kanker. Perjalanan selama sewindu ini mengajarkan satu pelajaran berharga: kanker tidak bisa dilawan sendirian.
Artikel Terkait
Amanda Manopo dan Kenny Austin Umumkan Kelahiran Anak Pertama, Bayi Laki-Laki Bernama Zac
Tokoh Sepuh NU Kiai Manarul Hidayat Restui Gus Hery Maju Calon Ketua Umum PBNU
Menteri Pertanian Puji Kualitas Bibit Kelapa dan Kakao di Konawe Selatan, Targetkan 3 Juta Lapangan Kerja Baru
Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.096 per Dolar AS, Daya Beli di Dalam Negeri Tak Sebanding dengan Beban Utang Luar Negeri