Guguran Awan Panas Semeru Berhenti, Ancaman Lahar Dingin Masih Mengintai

- Jumat, 21 November 2025 | 21:00 WIB
Guguran Awan Panas Semeru Berhenti, Ancaman Lahar Dingin Masih Mengintai
Update Kondisi Gunung Semeru

Guguran awan panas dari Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, akhirnya berhenti. Menurut Kepala PVMBG, Priatin Hadi Wijaya, fenomena itu hanya berlangsung selama dua hari pasca erupsi utama.

"Guguran awan panas terjadi dalam 2 hari. Hari pertama selama 4 jam, kemudian hari kedua relatif di bawah 1 jam dan hari ini sudah tidak ada lagi guguran panas," jelas Hadi saat ditemui di Gedung PVMBG, Bandung, pada Jumat (21/11).

Namun begitu, situasi belum sepenuhnya aman. PVMBG masih mencatat aktivitas erupsi yang cukup tinggi, berkisar antara 36 hingga 45 kali. Hal ini, kata Hadi, menunjukkan bahwa material vulkanik masih berkeliaran di sekitar kawah puncak Semeru.

"Memang terkait dengan erupsi itu masih tinggi tadi antara 36 sampai 45 kali artinya bahwa erupsi itu menandakan material vulkanik masih ada di sekitar dari kawah gunung Semeru," ucapnya.

Di sisi lain, ancaman lain justru mengintai. Masyarakat diminta untuk tidak lengah dan mewaspadai potensi bahaya lahar dingin. Kewaspadaan ini harus tetap dijaga, terutama bagi mereka yang berada di zona berbahaya.

"Kita harapkan lahar dingin yang nanti akan terjadi tetap terkendali sesuai dengan rekomendasi kami, tidak boleh ada aktivitas manusia 20 kilometer dari arah sektoral tenggara ke selatan. Sedangkan radius kami harapkan masyarakat tidak ada di 8 kilometer karena kemungkinan terjadi lemparan batu pijar," tegas Hadi.

Sebelumnya, Gunung Semeru telah erupsi pada Rabu (19/11) sekitar pukul 14.13 WIB. Erupsi ini memicu guguran awan panas yang langsung direspons dengan penetapan status tanggap darurat oleh BNPB untuk wilayah Lumajang. Status ini berlaku selama tujuh hari, mulai 19 hingga 26 November 2025.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar