Pada Rabu (19/11) lalu, Gunung Semeru yang membatasi Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan amuknya. Erupsi dahsyat itu melontarkan awan panas sejauh 8,5 kilometer dari puncaknya, sebuah pemandangan yang sekaligus mengerikan dan memukau.
Dampaknya langsung terasa di tiga dusun di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Kamar A, Sumbersari, dan Gumukmas hancur diterjang material vulkanik yang menghantam tanpa ampun.
Dua hari setelah bencana, suasana di Dusun Sumbersari masih mencekam. Batu-batu besar berwarna gelap, sisa-sia erupsi, masih tergeletak di mana-mana. Yang membuatnya semakin menyeramkan, sebagian dari bongkahan batu itu masih mengeluarkan asap tipis. Seorang jurnalis yang mendatangi lokasi mencoba meneteskan air ke atas salah satu batu. Begitu menyentuh permukaannya, air itu langsung mendesis dan menguap, lenyap ditelan hawa panas yang masih terpancar kuat. Bahkan dari tanah pasir vulkanik yang basah oleh gerimis, kepulan asap kecil masih terlihat mengepul, seolah bumi di sana belum benar-benar tenang.
Kini, suasana di Kamar A dan Sumbersari benar-benar hening. Sepi. Hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan. Rumah-rumah yang ditinggalkan dalam kondisi rusak parah, dengan puing-puing kayu dan atap berserakan di mana-mana, menjadi saksi bisu dari kekuatan alam yang tak terbendung.
Artikel Terkait
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan
Prajurit Gugur di Nduga, Ayah Banggakan Tekad Baja Anaknya yang Tak Pernah Menyerah
Megawati Bikin Heboh, Nyanyikan Cinta Hampa di Panggung Rakernas PDIP