Pendukung Fanatik Prabowo, Kok Malah Dukung Roy Suryo Cs?
Oleh: Erizal
Pertanyaan ini kerap saya terima: "Kenapa dukung Roy Suryo Cs, bukan Jokowi? Bukankah dulu kamu pendukung Prabowo-Gibran?" Mereka bilang saya ini pendukung fanatik.
Jawaban saya sederhana. Yang butuh dukungan saat ini justru Roy Suryo Cs, bukan Jokowi. Soalnya, Jokowi sudah punya dukungan penuh dari Polisi. Sejak awal, niatnya bukan menjawab keraguan publik soal ijazah, tapi malah berniat memenjarakan orang.
Memang benar teori yang bilang "yang menuduh harus membuktikan". Tapi ijazah Jokowi ini sudah pernah memenjarakan dua orang. Apa kita mau tambah lagi jadi delapan? Seharusnya dibuka saja semuanya.
Di sisi lain, Arsul Sani sudah memberi contoh bagus. Meski agak terlambat, ketika dituduh punya ijazah palsu, dia malah membukanya di depan publik. Dia tak lantas melaporkan balik yang menuduh. Itu sikap yang elegan, sangat berbeda dengan Jokowi.
Apa yang dilakukan Arsul Sani ini membantah semua alasan Jokowi dan pendukungnya selama ini. Makanya wajar kalau orang mulai berspekulasi, jangan-jangan ijazahnya memang palsu? Itu pertanyaan yang wajar muncul.
Rasa curiga publik semakin menjadi. Kalau memang asli, kenapa takut dibuka? Kalau asli tapi tetap ditutup-tutupi, berarti benar dugaan banyak orang bahwa ini murni permainan politik Jokowi. Ijazah cuma jadi alat untuk kepentingan politiknya belaka.
Nah, ini juga alasan saya mendukung Roy Suryo Cs. Politik saya memang sudah berbeda dengan Jokowi-Gibran, meski dengan Prabowo masih sejalan. Politik ala Jokowi ini sudah kedaluwarsa dan nggak asyik lagi.
Politik Jokowi itu hidup dari pembelahan dan konflik. Selama ada pertentangan, selama itu pula dia merasa relevan. Sementara politik Prabowo justru merangkul dan dirangkul. Bertolak belakang banget, kan?
Jangan salah, politik merangkul Jokowi pun sebenarnya punya maksud terselubung. Semua untuk kepentingan politiknya sendiri. Bahkan merangkul Prabowo dulu juga ada hitungannya. Beda banget dengan Prabowo yang lebih tulus.
Kasus ijazah ini seperti cermin karakter politik Jokowi. Soal asli atau palsu sebenarnya sudah nggak relevan lagi. Kalau terbukti palsu, ya tamatlah riwayatnya. Tapi kalau asli pun, citra politiknya sudah terlanjur jelek. Prabowo jelas jauh dari gaya seperti ini.
Saya perkirakan, seperti kasus Hasto, Tom Lembong, Bambang Tri, sampai Gus Nur, politik Prabowo sudah menunggu di ujung. Kalau Roy Suryo Cs bernasib sial, mustahil Prabowo tinggal diam. Tapi sejujurnya, kasus ijazah ini memang remeh. Nggak ada target politik Prabowo di situ.
Yang patut diacungi jempol, Roy Suryo Cs berhasil membongkar satu hal penting: Gibran tak bisa lagi mencalonkan diri di Pilpres 2029. Mereka berhasil mengungkap PKPU No 19 tahun 2023 pasal 18 ayat 3. PKPU ini memang aneh dan harus dihapus.
Masa sih orang tanpa ijazah SMA bisa punya gelar Sarjana, lalu boleh mendaftar jadi capres-cawapres? Dulu publik mungkin nggak paham, tapi berkat Roy Suryo Cs, semua jadi melek. Permainan politik kotor akhirnya terbongkar.
Bisa jadi karena itulah target politik Jokowi sekarang beralih dari Gibran ke Kaesang. PSI bahkan sudah menginstruksikan semua spanduk dan alat peraga wajib memasang foto Jokowi dan Kaesang.
Wajar saja. Jokowi pasti akan kerja keras membesarkan PSI. Partai ini jadi taruhan terakhirnya. Tapi ya, sepandai-pandainya tupai melompat, sesekali jatuh juga. Kita lihat saja nanti endingnya seperti apa.
Artikel Terkait
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Pick Up India
Tes Urine Massal di Polres Jakarta Pusat, Satu Personel Positif Codeine karena Obat Batuk