Waspada! Densus 88 Ungkap Modus Baru Rekrutmen Teroris ke Anak Lewat Media Sosial & Game Online

- Selasa, 18 November 2025 | 18:00 WIB
Waspada! Densus 88 Ungkap Modus Baru Rekrutmen Teroris ke Anak Lewat Media Sosial & Game Online

Densus 88 Bongkar Modus Perekrutan Anak oleh Jaringan Teroris Lewat Dunia Digital

Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri berhasil mengungkap sebuah kasus serius mengenai upaya perekrutan anak dan remaja ke dalam jaringan terorisme. Operasi penegakan hukum ini telah berhasil mengamankan lima orang tersangka yang diduga terlibat aktif.

Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, mengonfirmasi bahwa salah satu dari kelima tersangka merupakan 'pemain lama' yang telah terafiliasi dengan jaringan teroris internasional. Jaringan yang dimaksud adalah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau yang juga dikenal dengan Jamaah Ansharut Daulah.

Mayndra menjelaskan bahwa penangkapan terhadap satu tersangka kunci tersebut kemudian dikembangkan oleh timnya. Pengembangan investigasi ini akhirnya mengungkap empat pelaku baru lainnya, sehingga total menjadi lima tersangka yang berhasil diamankan.

Modus Perekrutan Anak Melalui Platform Digital

Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko dari Divisi Humas Polri memaparkan metode yang digunakan para tersangka dalam merekrut anak-anak dan pelajar. Teknik perekrutan memanfaatkan berbagai platform digital yang populer di kalangan generasi muda.

Modus operandi yang digunakan sangat beragam, mencakup pemanfaatan media sosial, game online, aplikasi pesan instan, hingga akses ke situs-situs tertutup. Pola perekrutannya dilakukan secara bertahap dan sistematis.

Tahapan Perekrutan Digital yang Diungkap Polisi

Proses perekrutan dimulai dengan penyebaran konten propaganda di platform terbuka seperti Facebook, Instagram, dan berbagai game online. Target yang menunjukkan ketertarikan atau dianggap potensial kemudian akan dihubungi secara personal melalui aplikasi percakapan seperti WhatsApp atau Telegram.

Konten propaganda yang disebarkan dirancang khusus untuk menarik minat anak-anak, berupa video pendek, animasi, meme, hingga konten musik. Tujuannya adalah membangun kedekatan emosional dan menanamkan minat ideologis secara perlahan.


Halaman:

Komentar