Tawakal Adalah: Pengertian, Kisah Nabi, dan Cara Menerapkannya dengan Benar

- Sabtu, 15 November 2025 | 13:50 WIB
Tawakal Adalah: Pengertian, Kisah Nabi, dan Cara Menerapkannya dengan Benar
Makna Tawakal yang Sebenarnya: Pengertian, Kisah, dan Keutamaannya

Memahami Makna Tawakal yang Sebenarnya: Bukan Hanya Pasrah

“Tidaklah kebetulan jika Anda membaca artikel ini, melainkan atas Kehendak-Nya.”

Oleh: Nizar Iskandara

Pernahkah Anda merasa sudah berusaha maksimal, berdoa siang dan malam, namun hasilnya tidak kunjung seperti yang diharapkan? Di saat-saat seperti itu, keraguan sering muncul. Pertanyaan seperti "Apakah Allah mendengar doaku?" atau "Mengapa segalanya terasa begitu berat?" menghantui pikiran. Pada hakikatnya, di balik ujian tersebut, Allah sedang mengajarkan pelajaran yang sangat berharga, yaitu hakikat dari tawakal yang sesungguhnya.

Apa Itu Tawakal? Lebih Dari Sekadar Kata

Tawakal sering diucapkan, namun tidak semua orang memahami kedalamannya. Tawakal adalah sebuah perjalanan spiritual menuju kedalaman jiwa. Ia merupakan jembatan yang menghubungkan antara usaha maksimal dan ketenangan hati, serta antara kehendak manusia dan ketetapan Ilahi. Banyak orang mengaku telah bertawakal, namun hatinya masih diliputi kegelisahan dan pikirannya terus menerawang antara harap dan cemas. Ini menandakan tawakalnya masih sebatas di akal, belum meresap ke dalam hati.

Kisah Teladan: Mengikat Unta Sebelum Bertawakal

Sebuah kisah dari Rasulullah SAW memberikan pelajaran nyata tentang makna tawakal. Suatu ketika, seorang sahabat hendak masuk ke masjid dan membiarkan untanya tanpa diikat. Rasulullah pun bertanya, "Apakah untamu sudah kamu ikat?" Sahabat itu menjawab, "Saya bertawakal kepada Allah, wahai Rasulullah." Mendengar jawaban itu, Rasulullah bersabda, "Ikatlah untamu terlebih dahulu, barulah bertawakal."

Kisah ini mengajarkan prinsip yang sangat mendasar: tawakal harus didahului dengan ikhtiar atau usaha yang maksimal. Kita tidak boleh hanya pasrah tanpa melakukan upaya apa pun. Tawakal yang sejati adalah kombinasi sempurna antara kerja keras dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah setelah segala daya dan upaya telah dikerahkan.

Tanda-Tanda Tawakal yang Benar dalam Hati

Tawakal yang hakiki terwujud ketika seseorang menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah tanpa disertai keraguan dan ketakutan, setelah ia berusaha dengan sungguh-sungguh. Seringkali, kita menghadapi momen di mana segala upaya telah dilakukan, namun hasil tetap tidak sesuai. Di titik inilah, banyak hati yang menjadi lemah dan putus asa.

Padahal, justru di saat-saat seperti itulah Allah sedang membimbing hamba-Nya untuk memahami arti ketergantungan yang sejati. Selama hati kita masih terpaut pada "hasil" dan jiwa kita masih berusaha mengendalikan segalanya, maka tawakal belum sepenuhnya hidup di dalam dada.

Perbedaan Tawakal dan Menyerah

Perlu ditekankan bahwa tawakal sama sekali bukan berarti menyerah atau berdiam diri tanpa perjuangan. Tawakal adalah berjuang sepenuh hati tanpa menggantungkan kebahagiaan pada hasil akhir. Banyak orang yang tertipu, mengira bahwa hasil yang baik adalah bukti cinta Allah, padahal cinta-Nya justru seringkali hadir dalam bentuk ujian dan penundaan. Ujian inilah yang membedakan antara orang yang beriman di saat mudah dengan orang yang tetap teguh imannya meski di tengah jalan yang terlihat buntu.

Keutamaan dan Kekuatan Tawakal dalam Kehidupan

Orang yang memaksakan fokus hanya pada "hasil" akan hidup dalam kegelisahan, mudah kecewa, dan bahkan curiga terhadap ketetapan Tuhan. Sebaliknya, orang yang belajar tawakal akan menundukkan kepala dengan ikhlas menerima takdir, sambil terus berusaha.

Rasulullah SAW bersabda: “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberimu rezeki sebagaimana yang diberikan-Nya kepada burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

Hadis ini menggambarkan betapa Allah menjamin rezeki bagi hamba-Nya yang bertawakal dengan benar. Seperti burung yang tidak hanya diam di sarang, tetapi pergi mencari makan, lalu pulang dengan perut kenyang atas izin Allah.

Semoga kita semua diberi kemampuan oleh Allah untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang mutawakkil (orang yang bertawakal) dan mukhlis (orang yang ikhlas).

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar