Damai kemudian mempertanyakan, tanda-tanda apa lagi yang dibutuhkan rakyat untuk menyadari situasi ini. Ia menyebut masyarakat seolah tertidur lelap karena ketakutan, sementara program-program seperti dukungan untuk UMKM masih sekadar wacana.
Alasannya, menurut Damai, negara sibuk dan kewalahan dalam menangani teknis dan menutupi kebutuhan finansial program MBG (Masa Depan Bangsa Gemilang) yang dipandang sangat mendesak. Hal ini membuat penguasa istana harus benar-benar fokus.
Damai Lubis juga menarik pelajaran dari sejarah. Ia menyatakan bahwa tidak heran jika Nusantara dahulu lama dikuasai kolonial, meski akhirnya merdeka setelah mengorbankan banyak nyawa. Ia kemudian membuat analogi dengan sosok Eggi yang hijrah namun tetap melawan dengan caranya sendiri, yang justru dituding menerima uang oleh pihak-pihak yang ia sebut sebagai "banci tampil maupun banci sembunyi" yang enggan berpikir kritis.
Analisis Damai Lubis ini menyoroti kompleksitas peta politik Indonesia ke depan, terutama terkait dengan estafet kepemimpinan nasional dan peluang Gibran Rakabuming Raka pada Pemilu Presiden 2029.
Artikel Terkait
Kim Jong-un Buka 2026 dengan Ritual Kekuasaan di Kumsusan
Prabowo Tinjau Langsung Jembatan Darurat dan Posko Kesehatan di Tapsel Pascabencana
Tragedi di Warakas: Tiga Nyawa Melayang Diduga Akibat Keracunan Misterius
KUHP Baru dan Ancaman Sunyi bagi Kritik di Ruang Digital