Kecaman Hamas terhadap Kazakhstan Bergabung Perjanjian Abraham dengan Israel: Alasan dan Dampaknya

- Sabtu, 08 November 2025 | 21:40 WIB
Kecaman Hamas terhadap Kazakhstan Bergabung Perjanjian Abraham dengan Israel: Alasan dan Dampaknya

Kecaman Hamas terhadap Kazakhstan Bergabung Perjanjian Abraham dengan Israel

Kelompok Hamas mengutuk keras langkah Kazakhstan yang berencana memulihkan hubungan dengan Israel melalui Perjanjian Abraham (Abraham Accords). Pernyataan resmi organisasi perlawanan Palestina tersebut dirilis pada Jumat (7/11) sebagai bentuk protes.

Respons Hamas terhadap Normalisasi Hubungan Kazakhstan-Israel

Hamas menilai keputusan Kazakhstan sebagai langkah tidak terpuji dan memalukan. Dalam pernyataannya, mereka menyebutkan bahwa bergabung dengan perjanjian tersebut sama saja membenarkan tindakan Israel yang telah menewaskan lebih dari 68.800 warga Palestina sejak Oktober 2023.

"Deklarasi Kazakhstan untuk bergabung dengan Abraham Accords dan memperkuat hubungan dengan entitas kriminal Zionis [Israel] adalah langkah yang tidak bisa diterima," tegas Hamas.

Konfirmasi Resmi Kazakhstan dan Dukungan AS

Kantor Presiden Kazakhstan telah mengonfirmasi rencana negara dengan mayoritas penduduk muslim tersebut untuk bergabung dalam Perjanjian Abraham sebagai bagian dari kebijakan luar negeri. Presiden AS Donald Trump kemudian secara resmi mengumumkan bahwa Kazakhstan akan bergabung dengan negara-negara yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel.

Sejarah Hubungan Diplomatik Kazakhstan-Israel

Hubungan diplomatik antara Kazakhstan dan Israel sebenarnya telah terjalin sejak tahun 1992. Kerjasama kedua negara semakin diperkuat melalui berbagai kunjungan pejabat tinggi dan pembukaan kedutaan besar masing-masing negara.

Latar Belakang Perjanjian Abraham

Perjanjian Abraham diluncurkan Amerika Serikat pada tahun 2020 sebagai upaya memulihkan hubungan Israel dengan negara-negara Arab. Beberapa negara yang telah bergabung dalam perjanjian ini antara lain Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko.

Gedung Putih juga mengungkapkan keinginan agar lebih banyak negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel selama masa jabatan kedua Trump sebagai presiden.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar