Suasana Panas di Sidang PBB: AS dan Iran Saling Serang
Ruang sidang Dewan Keamanan PBB Kamis lalu (15/1/2026) tegang. Udara terasa berat. Pertemuan darurat yang digagas Washington itu jadi ajang adu argumen sengit antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul gelombang protes besar yang mengguncang Teheran.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, bersikap keras. Ia menegaskan Presiden Donald Trump bukan tipe pemimpin yang hanya omong doang. "Izinkan saya memperjelas bahwa Presiden Donald Trump adalah seorang yang bertindak, bukan hanya berbicara," ujarnya tegas.
Waltz menambahkan, semua opsi ada di meja. Tujuannya satu: mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.
Di sisi lain, Wakil Duta Besar Iran, Hossein Darzi, langsung membalas. Kritiknya pedas. Ia mengecam Washington yang ditudingnya ikut campur dan memicu kekerasan. Menurut Darzi, dalih kemanusiaan yang dipakai AS cuma kedok belaka untuk menyiapkan intervensi militer.
"AS berupaya menampilkan diri sebagai sahabat rakyat Iran, padahal sebenarnya sedang merusak kedaulatan kami," kata Darzi dengan nada tinggi.
Iran nggak sendirian. Posisinya dapat sokongan dari Rusia. Vasily Nebenzya, perwakilan Rusia di PBB, menyebut retorika AS berbahaya dan sembrono. Sementara China lebih memilih jalan hati-hati, mendesak semua pihak menahan diri. Mereka khawatir kawasan bisa terjerumus ke dalam "hukum rimba" dan konflik yang makin meluas.
Di balik semua debat itu, pergerakan militer AS dilaporkan makin kencang. Menurut laporan Fox News, setidaknya satu gugus tugas kapal induk sedang dikirim ke arah Timur Tengah. Pentagon memang belum berkomentar resmi, tapi langkah ini jelas dibaca banyak pihak sebagai persiapan opsi militer Trump.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, cuma bilang bahwa situasi sedang dipantau ketat. "Presiden dan timnya memantau situasi dengan cermat dan semua opsi sedang disampaikan kepada Presiden," tuturnya singkat.
Menariknya, laporan diplomatik mengungkap komunikasi intensif Trump dengan sejumlah pemimpin Timur Tengah Mesir, Oman, Arab Saudi, dan Qatar dalam dua hari terakhir. Mereka konon memperingatkan bahwa intervensi militer AS di Iran bisa bikin ekonomi global goncang dan mengacaukan stabilitas kawasan yang sudah panas.
Sementara itu, korban jiwa terus berjatuhan. Data dari kelompok HAM menyebutkan korban tewas dalam protes sudah mencapai 2.677 orang. Meski situasi di Teheran belakangan agak mereda, kehadiran militer AS di kawasan tetap membuat dunia waspada. Mata internasional masih tertuju ke Asia Barat, menunggu perkembangan selanjutnya.
Artikel Terkait
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April