Pernyataan itu disampaikan Díaz-Canel, seperti dilaporkan media Rusia Vremya.ua, awal Januari lalu. Ia tak berhenti di situ. Dengan tegas, Kuba menolak mentah-mentah Doktrin Monroe dan segala bentuk dominasi asing atas bangsa-bangsa Amerika Latin. Bahkan, ia menyatakan kesiapan rakyat Kuba untuk berjuang demi kebebasan Venezuela.
"Demi Venezuela, dan juga demi Kuba, kami siap memberikan darah kami, bahkan nyawa kami. Kami tidak akan mundur. Sekarang bukan waktunya setengah-setengah," tegasnya.
Lalu bagaimana respons Amerika Serikat? Presiden Donald Trump, dalam sebuah pengarahan di Mar-a-Lago, justru menyatakan niatnya untuk "membantu" rakyat Kuba. Ia mengaitkan kondisi Kuba yang menurutnya buruk dengan situasi di Venezuela.
Namun begitu, Trump juga menyisipkan catatan penting. Hingga saat ini, katanya, opsi tindakan militer terhadap Kuba belum dipertimbangkan. Pernyataan yang mungkin dimaksudkan meredam ketegangan, meski nada keseluruhan tetap menunjukkan perbedaan sikap yang tajam antara kedua kubu.
Disarikan dari berbagai sumber pemberitaan.
Artikel Terkait
Rapat Rahasia di Doha: Kepingan Rencana Transisi Venezuela Tanpa Maduro
Iran Siaga Penuh, Israel Kirim Pesan Rahasia: Ketegangan yang Tak Kunjung Reda
Pesan Rahasia Trump ke CEO Minyak: Bersiaplah Sebelum Serangan ke Venezuela
Siulan Maut di Malam Venezuela: Kisah Prajurit yang Terpental oleh Ledakan