Kuba Angkat Bicara: Tegas Tolak Intervensi AS di Venezuela
Havana diguncang pernyataan keras. Presiden Miguel Díaz-Canel tak main-main menyikapi kabar penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Ia menyebutnya sebagai aksi terorisme negara sebuah pukulan telak terhadap pemimpin yang sah pilihan rakyatnya sendiri.
Bagi Díaz-Canel, peristiwa semacam ini jelas tak bisa dibiarkan. Bagaimana mungkin komunitas internasional diam saja melihat seorang kepala negara yang dipilih secara demokratis disingkirkan dengan paksa? Kuba melihatnya sebagai pelanggaran berat, bukan cuma pada kedaulatan Venezuela, tapi juga pada hukum internasional yang seharusnya dijunjung tinggi.
Di sisi lain, ada nada frustrasi yang kuat dalam pidatonya. Presiden Kuba itu geram dengan anggapan lama bahwa Amerika Latin adalah "halaman belakang" Amerika Serikat. Menurutnya, motif imperialis sebenarnya transparan: merebut minyak, tanah, dan segala kekayaan alam Venezuela yang melimpah.
"Tujuan kaum imperialis adalah minyak Venezuela, tanah dan sumber daya alamnya. Tidak, Tuan-tuan imperialis, ini bukan ‘halaman belakang’ Anda,"
Pernyataan itu disampaikan Díaz-Canel, seperti dilaporkan media Rusia Vremya.ua, awal Januari lalu. Ia tak berhenti di situ. Dengan tegas, Kuba menolak mentah-mentah Doktrin Monroe dan segala bentuk dominasi asing atas bangsa-bangsa Amerika Latin. Bahkan, ia menyatakan kesiapan rakyat Kuba untuk berjuang demi kebebasan Venezuela.
"Demi Venezuela, dan juga demi Kuba, kami siap memberikan darah kami, bahkan nyawa kami. Kami tidak akan mundur. Sekarang bukan waktunya setengah-setengah," tegasnya.
Lalu bagaimana respons Amerika Serikat? Presiden Donald Trump, dalam sebuah pengarahan di Mar-a-Lago, justru menyatakan niatnya untuk "membantu" rakyat Kuba. Ia mengaitkan kondisi Kuba yang menurutnya buruk dengan situasi di Venezuela.
Namun begitu, Trump juga menyisipkan catatan penting. Hingga saat ini, katanya, opsi tindakan militer terhadap Kuba belum dipertimbangkan. Pernyataan yang mungkin dimaksudkan meredam ketegangan, meski nada keseluruhan tetap menunjukkan perbedaan sikap yang tajam antara kedua kubu.
Disarikan dari berbagai sumber pemberitaan.
Artikel Terkait
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung
Iran Tegaskan Hanya Diplomasi Solusi untuk Isu Nuklir, Peringatkan Konsekuensi Militer
Obama Tegaskan Tak Ada Bukti Kunjungan Alien ke Bumi Saat Ia Presiden
Lima Negara NATO Tuduh Rusia Racun Navalny dengan Epibatidine