Venezuela Tuduh AS Bantai Pengawal dan Culik Maduro

- Senin, 05 Januari 2026 | 08:50 WIB
Venezuela Tuduh AS Bantai Pengawal dan Culik Maduro

MURIANETWORK.COM – Kabar mengejutkan datang dari Venezuela. Menteri Pertahanan negara itu, Vladimir Padrino Lopez, melontarkan tuduhan serius terhadap Amerika Serikat. Menurutnya, pasukan AS dengan kejam membunuh para pengawal Presiden Nicolas Maduro beserta staf kepresidenan. Semua itu terjadi dalam sebuah operasi militer yang, ujung-ujungnya, berhasil menculik sang kepala negara. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 3 Januari 2026.

Korban jiwa dari serangan itu dikabarkan tidak sedikit. The New York Times, mengutip seorang pejabat senior Venezuela, melaporkan sedikitnya 80 orang tewas. Yang memilukan, korban bukan cuma dari kalangan militer. Warga sipil pun ikut menjadi sasaran.

Angka itu mungkin belum final. Menurut pejabat tadi, proses penyisiran di lokasi-lokasi serangan masih terus berjalan. Makanya, jumlah korban masih berpotensi bertambah. Hingga saat ini, pemerintah Venezuela sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi soal angka pasti korban tewas maupun luka.

Dalam pernyataannya, Lopez bersikukuh dengan tuduhannya. Dia menyebut pasukan AS membantai banyak pengawal kepresidenan saat aksi penculikan terhadap Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores berlangsung. Bahkan, staf kepresidenan yang berstatus sipil pun tak luput dari sasaran.

“Angkatan bersenjata nasional Bolivarian dengan tegas menolak penculikan pengecut terhadap warga Nicolas Maduro Moros, presiden konstitusional Republik Bolivarian Venezuela dan Panglima Tertinggi kami, serta istrinya, Ibu Negara Cilia Flores de Maduro,” tegas Lopez, seperti dikutip Sputnik.

Dia menambahkan, aksi penculikan itu bukan tanpa persiapan. Pasukan AS disebut terlebih dahulu melumpuhkan sistem keamanan di sekitar presiden. Caranya? Brutal.

“Kejahatan itu dilakukan pada hari Sabtu, 3 Januari, setelah sebagian besar tim keamanannya, personel militer, serta warga sipil yang tidak bersalah dibunuh dengan kejam,” paparnya.

Narasi dari Caracas ini tentu saja menambah panas situasi. Sementara itu, dari Washington belum ada tanggapan resmi yang bisa mengonfirmasi atau membantah klaim mengerikan dari Menhan Venezuela tersebut. Dunia kini menunggu, sambil mencerna laporan-laporan yang masih simpang siur ini.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar