Venezuela Bantah Klaim AS, Tegaskan Maduro Tetap Presiden

- Minggu, 04 Januari 2026 | 07:50 WIB
Venezuela Bantah Klaim AS, Tegaskan Maduro Tetap Presiden
Tanggapan Venezuela atas Klaim AS

Situasi di Venezuela memanas lagi. Kali ini, setelah penahanan Nicolas Maduro oleh otoritas Amerika Serikat, pemerintah di Karakas justru bersikukuh. Mereka menolak mentah-mentah klaim pengambilalihan yang digaungkan Washington.

Di tengah keributan itu, Wakil Presiden Delcy Rodriguez tampil dengan pernyataan tegas. Dalam sebuah pertemuan Dewan Pertahanan yang membahas operasi militer AS, suaranya lantang.

"Hanya ada satu presiden di negara ini, namanya Nicolas Maduro Moros,"

Begitu katanya, seperti dilaporkan media. Rodriguez tak berhenti di situ. Dia mendesak pemerintah AS untuk segera mengembalikan Maduro dan sang Ibu Negara, Cilia Flores, ke tanah air. Bagi Venezuela, status quo tak berubah meski pemimpinnya kini berada dalam tahanan.

Menurut Rodriguez, serangan AS ini menciptakan preseden yang sangat berbahaya. Bukan cuma untuk Venezuela, tapi untuk seluruh kawasan. Dia memperingatkan, apa yang terjadi hari ini bisa terulang di negara lain.

"Kami menyerukan kepada bangsa-bangsa di Tanah Air yang Agung untuk bersatu. Penggunaan kekuatan ini bisa berbalik melawan negara mana pun,"

Di sisi lain, dari Washington, narasinya sama sekali berbeda. Presiden Donald Trump menyatakan AS telah mengambil alih pemerintahan Venezuela pasca-penangkapan Maduro. AS, katanya, akan menjalankan roda pemerintahan untuk sementara waktu.

Namun begitu, Trump memberi sedikit sinyal. Pemerintahan akan dikembalikan nanti, setelah ada transisi yang dia sebut "tepat dan bijaksana". Dia tak merinci lebih jauh seperti apa transisi itu. Yang jelas, langkah-langkah tekanan seperti embargo minyak terhadap Venezuela tetap diberlakukan.

Setibanya di AS, Maduro dan istrinya akan menghadapi serangkaian dakwaan berat. Tuduhannya berkisar pada kejahatan narkoba dan senjata. Itu klaim dari pihak Amerika.

Jadi, dua narasi yang bertolak belakang ini sedang beradu. Satu sisi menyatakan kedaulatan tetap utuh, sisi lain mengklaim kendali. Yang pasti, ketegangan ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Disarikan dari berbagai sumber berita.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar