Mahfud merinci dugaan mark up dengan membandingkan biaya konstruksi per kilometer. Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per 1 km kereta Whoosh mencapai 52 juta US dolar. Sementara di Cina sendiri, biayanya hanya berkisar 17-18 juta US dolar. Artinya, terjadi kenaikan hingga tiga kali lipat.
"Nah, itu markup. Harus diteliti siapa dulu yang melakukan ini," tegas Mahfud.
Dia juga memperingatkan dampak buruk proyek ini terhadap kedaulatan bangsa. Jika Indonesia gagal bayar, dikhawatirkan Cina akan meminta kompensasi, seperti penguasaan Laut Natuna Utara, mirip dengan kasus yang terjadi di Sri Lanka.
Mahfud mengusulkan agar kasus ini diselesaikan secara hukum, baik pidana maupun perdata. Dia juga mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo untuk membuka kasus-kasus yang berpotensi korupsi.
Profil dan Tantangan Proyek Kereta Cepat Whoosh
Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung mulai dibangun pada 2016 dan resmi beroperasi pada Oktober 2023. Total nilai investasinya mencapai 7,27 miliar dollar AS atau sekitar Rp 118,37 triliun. Sekitar 75% pendanaan proyek ini berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB).
Whoosh merupakan kereta cepat pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang dapat melaju hingga 350 km/jam, mempersingkat perjalanan Jakarta-Bandung menjadi kurang dari satu jam.
Namun, proyek ini menghadapi tantangan besar karena pendapatan dari tiket belum mampu menutupi biaya bunga pinjaman, cicilan, dan biaya operasional. Restrukturisasi keuangan pun menjadi langkah krusial agar proyek tidak membebani APBN.
Sumber: Monitor Indonesia
Artikel Terkait
KPK Bergerak Serentak: Jakarta dan Banjarmasin Diguncang OTT
Di Balik Penampilan Prima Jokowi, Tradisi Hukum Kuno yang Masih Membayangi
Jaringan Judi Online Berbasis Kamboja Dibongkar dari Kamar Kos Palembang
Desakan Keras: Aparat Hukum Didorong Periksa Jokowi Terkait Dua Kasus Besar