Sajak-sajak Itu Mengalir Deras Seperti Angin Menyelir
Walau sekarang ini masih terus diuji air mataku telah banyak terkuras.
Membersihkan orang fakir menggadai nyawanya di tempat sampah.
Air mataku sudah mulai mengering untuk sahabatku di negeri timur.
Demi busung lapar di tanah sendiri menderita karena hartanya direnggut.
Kawanku berpalinglah sebentar walaupun jauh.
Lapakkan aku di ronggamu datanglah dari letak diri.
Beri isi hatimu aku rindu solidaritas.
Waktu malam mulai mengalun menahan kerinduan bertemu.
Saban adegan dialog panjang menari ikuti irama di atas panggung.
Takkan ada seorangpun mampu mengusapmu.
Selanjutnya sajak-sajak itu mengalir deras seperti angin menyelir.
Mematikan api berkobar pada kedua belah pengaruhmu.
Kini air mataku masih banyak tersisa.
Lamun tetap bukan untuk negeriku tetapi akan aku simpan di wadah.
Menerima minum anak-anak tukang sampah di perempatan jalan.
Melacak makan pada tutup botol berkayu serta botol plastik bekas.
Air dan sebagiannya akan kugunakan membersihkan.
Tubuh saudaraku terguyur lumpur ajaib.
Selamanya menyembur akibat ulah buruk makan.
Saudaraku tolong tatap raut muka ini lihat dada nan lapang.
Sinar tajam mata hati sahut suara dari mulut.
Seluruh nan kumiliki masih ada aku menjumpaimu.
Rindu tak ada lagi tersisa semua untuk meratapi isi negeriku.
Sebab sudah terlalu lama menanti janji tak kunjung datang.
Di akhir waktu ini ingin rasanya menciumi telapak para pemimpin.
Sebaliknya rasa itu tiba-tiba sirna karena telapaknya terlalu halus dan bersih.
Selama para tukang pembuang sampah telapaknya mengelupas.
Sadis dan kotor setiap hari selalu berjalan tak melepas.
Pondok Petir, 19 Desember 2023
Hidanganmu adalah Ujian Sepanjang Masa
Artikel Terkait
Kim Min Ha dan Noh Sang Hyun Reuni di Film Romantis Netflix Messily Ever After
Rekomendasi Drama Korea Bergaya Sejarah untuk Temani Waktu Ngabuburit
Warganet Duga Hubungan Davina dan Ardhito Bagian dari Manajemen Isu
Lnw Fashion Akhiri Endorsement Inara Rusli Usai Protes Netizen