Jakarta - Dunia film Indonesia kembali kedatangan wajah baru yang serius. Kiesha Alvaro, putra dari musisi Pasha Ungu, perlahan tapi pasti membuktikan komitmennya di layar lebar. Lewat film terbaru "Ahlan Singapore", ia berubah total menjadi Liam, seorang pemuda Singapura.
Namun begitu, perjalanannya tak mulus. Kiesha sempat dihantui rasa minder soal penampilannya. Tapi semua keraguan itu pupus begitu ia melihat hasil akhir di layar. "Aduh, saya enggak nyangka saya begitu," ujarnya, menirukan percakapannya dengan sutradara.
Di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kiesha terlihat lega. "Aku pastinya puas lah, enggak ada penyesalan sama sekali. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Tadi pas lihat hasilnya, senang banget. Ternyata saya cukup senang sama hasil kinerja saya," ungkapnya.
Meski puas, tantangan utama justru datang dari hal teknis: aksen. Ia harus menguasai 'Singlish' atau bahasa Inggris logat Singapura. Bukan perkara mudah.
Proses belajar pun digelontorkan. Selama tiga minggu masa reading, Kiesha belajar intensif. Dwynna Win, rekannya yang pernah tinggal di Singapura, jadi mentor dadakan.
Dwynna, yang memerankan Vanessa, sampai kagum dengan dedikasinya.
"Kiesha ini sulit banget! Enggak, enggak, bercanda," katanya sambil tertawa. "Dia orangnya sangat amat rajin sih. Bahkan di hari-hari di luar syuting, dia tetep nge-WA ‘Gimana Dwynna?’, terus kirim voice note. Kiesha berubah banget, tapi aku happy banget."
Pengalaman unik tak hanya dirasakan Kiesha. Rebecca Klopper, yang berperan sebagai Aisyah, juga punya cerita. Tantangannya? Harus berhijab sepanjang film dan mengolah suara agar terdengar lebih matang.
"Kesulitannya pasti ada ya," akunya. "Mungkin kesulitannya dalam berhijab, terus juga aku agak sedikit tua-tuain suara. Itu kebiasaan yang sulit dirubah sih."
Lama-lama, Rebecca justru menemukan sisi inspiratif dari karakternya. Aisyah bukan sekadar peran, tapi cermin yang memantulkan motivasi.
"Aisyah itu salah satu karakter yang aku mainin yang aku benar-benar kagumin. Spiritual level jauh di atas aku, pintar juga. Dia tuh S2 lho. Jadi aku ngerasa, kalau dia aja bisa, kenapa aku enggak? Aku jadi lebih ambis semenjak memerankan Aisyah," tambah Rebecca dengan semangat.
Proses syuting yang digelar di Singapura sendiri meninggalkan kesan mendalam. Rebecca menyoroti perbedaan budaya kerja yang terasa sekali. Di sana, semuanya berjalan cepat dan tepat waktu.
"Yang aku rasakan syuting di Singapura lumayan beda banget," ujarnya. "Lebih gerah, lebih sesak karena kostum. Aku selalu calling-an paling pagi dan paling akhir karena harus pakai hijab duluan. Tapi lama-lama, I see the fun in it."
Ritme kerjanya pun lebih ketat. "Kalau emang 10 jam, ya 10 jam. Kalau di Indonesia mungkin banyak leha-lehanya. Kalau di sana enggak, langsung syuting selesai. Lebih sat-set ya," imbuhnya.
Jadi, lewat film ini, bukan hanya transformasi fisik yang terjadi. Tapi juga pembelajaran tentang disiplin, dedikasi, dan menemukan sisi baru dari diri sendiri.
Artikel Terkait
Pesulap Merah Buka Suara Soal Pernikahan Siri dengan Ratu Rizky Nabila, Warganet Soroti Kronologi
Foto Bikini Hitam Lisa BLACKPINK di Salju Viral, Beredar Klaim Lokasi yang Dibantah Penggemar
Duka Menyelimuti Apoy Wali, Sang Ayah Berpulang di Bogor
Iis Dahlia Buka Suara: Tudingan Intimidasi ke Ressa Itu Tak Pernah Terjadi