"Kesulitannya pasti ada ya," akunya. "Mungkin kesulitannya dalam berhijab, terus juga aku agak sedikit tua-tuain suara. Itu kebiasaan yang sulit dirubah sih."
Lama-lama, Rebecca justru menemukan sisi inspiratif dari karakternya. Aisyah bukan sekadar peran, tapi cermin yang memantulkan motivasi.
Proses syuting yang digelar di Singapura sendiri meninggalkan kesan mendalam. Rebecca menyoroti perbedaan budaya kerja yang terasa sekali. Di sana, semuanya berjalan cepat dan tepat waktu.
"Yang aku rasakan syuting di Singapura lumayan beda banget," ujarnya. "Lebih gerah, lebih sesak karena kostum. Aku selalu calling-an paling pagi dan paling akhir karena harus pakai hijab duluan. Tapi lama-lama, I see the fun in it."
Ritme kerjanya pun lebih ketat. "Kalau emang 10 jam, ya 10 jam. Kalau di Indonesia mungkin banyak leha-lehanya. Kalau di sana enggak, langsung syuting selesai. Lebih sat-set ya," imbuhnya.
Jadi, lewat film ini, bukan hanya transformasi fisik yang terjadi. Tapi juga pembelajaran tentang disiplin, dedikasi, dan menemukan sisi baru dari diri sendiri.
Artikel Terkait
BELIFT LAB Tegaskan Heeseung Tak Kembali ke ENHYPEN, Fokus Karier Solo
Pejabat USDA Saksikan Finalis MasterChef Olah Salmon Alaska
Juicy Luicy Manggung Dadakan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta
CALMA Rilis Single Spesial Happy Birthday untuk Rayakan Ulang Tahun ke-6 BIG Records Asia