Gus Yahya Tegaskan Posisi, Ketegangan di Tubuh PBNU Masuk Bab Baru

- Minggu, 23 November 2025 | 09:00 WIB
Gus Yahya Tegaskan Posisi, Ketegangan di Tubuh PBNU Masuk Bab Baru

Gus Yahya Tak Berniat Mundur, Drama PBNU Berlanjut

Semalam saya menunggu-nunggu hasil pertemuan tanfiziyah PBNU di Surabaya sampai akhirnya ketiduran. Pagi ini, setelah menelusuri sejumlah media, kabarnya sudah jelas: Gus Yahya sama sekali tak berniat mundur dari posisi Ketum PBNU.

Drama internal NU ini ternyata masih berlanjut. Rasanya seperti menyaksikan bahtsul masail yang temanya diganti dari "hukum wudhu" menjadi "apakah ketua umum boleh diminta mundur tanpa surat resmi?" Problem kontemporer disajikan dengan gaya klasik khas pesantren.

Menurut sejumlah saksi, Gus Yahya tiba di Hotel Novotel Surabaya dengan ketenangan luar biasa. Layaknya fakih yang baru saja menamatkan bab al-qadha' dalam kitab fikih, wajahnya menunjukkan keyakinan penuh pada posisinya.

Meski Syuriyah sudah memintanya mundur dalam tiga hari, Gus Yahya punya argumennya sendiri. Dengan logika fikih yang jelas, ia berpegang pada amanah Muktamar yang berlaku lima tahun. "Lima tahun itu harus dijalankan," katanya dengan mantap. Bahkan ia menyatakan belum menerima risalah rapat Syuriyah secara resmi, sehingga permintaan mundur itu baginya ibarat syarat fasid - terdengar keras tapi tak memenuhi rukun.

Suasana pertemuan itu sendiri cukup unik. Undangan rapat koordinasi beredar ke seluruh PWNU provinsi, mirip santri-santri dipanggil ke halaqah besar. Tanpa daftar hadir yang diumumkan ke publik, situasinya penuh misteri seperti hukum asal rokok sebelum difatwakan.

Gus Yahya muncul tepat pukul 19.33 WIB. Penjagaan Banser begitu ketat, sampai-sampai rasanya lalat pun harus menunjukkan identitas dulu kalau mau lewat.

Namun begitu, ada yang menarik perhatian. Dua tokoh penting justru absen: Gus Ipul selaku Sekjen PBNU dan Gus Kikin dari PWNU Jatim. Ketidakhadiran mereka membuat suasana makin mirip kajian fikih yang berubah jadi perdebatan panjang.

Dalam tradisi NU, ketidakhadiran seperti ini bisa berarti banyak hal. Mungkin uzur syar'i, mungkin strategi diam, atau gerakan isyarat yang sengaja dibiarkan samar seperti qarinah dalam ushul fikih.

Pertemuan yang berlangsung enam jam itu disebut-sebut sebagai rapat koordinasi biasa. Tapi auranya? Jelas bukan biasa. Saking tegangnya, suasana itu bisa masuk bab darurat kalau dimasukkan ke kitab fikih.

Para PWNU yang hadir seolah ditimang-timang antara maslahah mursalah dan sadduz dzari'ah. Mau mendukung atau netral, semuanya ada konsekuensinya.

Di sisi lain, Syuriyah tak bergeming. Mereka bersikukuh keputusan 20 November tetap berlaku dan Gus Yahya harus mundur. Dari sudut pandang mereka, pertemuan Surabaya itu tak menyentuh illat persoalan sebenarnya, yaitu dugaan pelanggaran nilai dasar dan tata kelola organisasi.

Persis seperti dua fakih berbeda mazhab. Satu bicara soal legitimasi, satu lagi soal prosedur. Masing-masing punya dalil kuat, masing-masing yakin pada pendiriannya.

Dalam kerangka fikih NU, posisi Gus Yahya jelas jazm - tak berniat mundur. Posisi Syuriyah juga jazm - tetap minta mundur. Tak ada yang mau ruju', tak ada yang mau takhfif.

Akhirnya, yang tersisa adalah NU sebagai kitab tebal yang masih terus dibaca lembar demi lembar. Tanpa tanda-tanda bab penutup akan datang dalam waktu dekat.

Drama PBNU ini belum selesai di Surabaya. Masuklah kita ke bab berikutnya, yang pasti lebih panjang, lebih pelik, dan tentu lebih seru. Sebab dalam tradisi fikih NU, tak ada masalah besar yang selesai cepat. Semuanya butuh istinbath, musyawarah, kopi kental, dan kesabaran panjang seperti membaca kitab kuning tanpa harakat.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar