Di kawasan TMII yang ramai, Kamis lalu, Jennifer Bachdim tampak santai membahas perubahan besar dalam hidup keluarganya. Suaminya, Irfan Bachdim, resmi mengakhiri karier profesionalnya di dunia sepak bola. Keputusan itu diambil demi fokus penuh pada olahraga HYROX dan ambisinya untuk menjadi seorang pelatih.
“Memang sekarang Irfan nggak main bola lagi, tapi kita lihat aja nanti,” ujar Jennifer dengan nada tenang.
“Aku tetap support apa pun yang dia pilih, yang penting dia bahagia.”
Lantas, bagaimana dengan kondisi keuangan mereka? Sumber pemasukan utama dari lapangan hijau itu tentu saja sudah berhenti. Namun, Jennifer memastikan keadaan keluarga mereka tetap stabil. Ia tak sepenuhnya bergantung. Aktivitasnya sendiri di dunia endorsement, olahraga, dan beberapa bisnis yang dijalani dengan serius menjadi penopang penting.
Menurutnya, justru fokus Irfan pada HYROX ini membuka babak baru. Ada peluang penghasilan dan karier di bidang olahraga yang berbeda dari sebelumnya.
“Kalau soal ekonomi, kita fleksibel,” katanya sambil tersenyum.
“Apapun yang dia mau lakukan, aku support. Kita jalani sambil lihat peluang yang ada.”
Bagi Jennifer, transisi ini sama sekali bukan beban. Malah, ia melihatnya sebagai kesempatan emas untuk menata ulang prioritas. Bukan cuma urusan finansial, tapi juga bagaimana memaksimalkan potensi di ranah baru. Keluarga, baginya, adalah fondasi segalanya.
“Ekonomi keluarga itu penting, tapi yang lebih penting lagi adalah keseimbangan hidup dan kebahagiaan anak-anak serta kita sebagai orang tua,” tegasnya.
Dinamika positif ini ternyata menular ke anak-anak mereka: Kenji, Kiyomi, dan Kiyoji. Mereka mulai aktif ikut serta dalam aktivitas olahraga orang tuanya. Jennifer menyebut momen-momen lari bersama itu bukan sekadar olahraga, tapi menjadi quality time yang berharga sekaligus menanamkan gaya hidup sehat.
“Anak-anak ikut lari karena melihat kita aktif. Jadi ini nggak cuma olahraga, tapi juga quality time yang menyenangkan,” jelasnya.
Di sisi lain, Jennifer menekankan bahwa dukungannya pada Irfan tak pernah luntur. Ia percaya, langkah baru sang suami justru akan membawa stabilitas yang berbeda bagi keluarga mereka. Kuncinya adalah adaptasi.
“Kita tetap fleksibel dan terbuka untuk berbagai kesempatan. Hidup itu harus adaptif, termasuk soal pekerjaan dan ekonomi,” tambah Jennifer.
Ia juga mengakui pentingnya perencanaan keuangan yang matang. Dengan perubahan ini, mereka berusaha ekstra menyeimbangkan antara pengeluaran, investasi, dan kebutuhan sehari-hari. Tujuannya satu: tetap produktif meski jalan yang ditempuh berbeda.
Irfan sendiri, lewat penuturan Jennifer, ingin menegaskan bahwa fokus barunya bukan bentuk pengabaian tanggung jawab. Justru, ia ingin menjadi figur positif bagi anak-anak sambil membuka jalur karier alternatif.
Di akhir obrolan, Jennifer menyimpulkan semuanya dengan kalimat yang sederhana namun dalam. Baginya, ekonomi keluarga tak pernah cuma soal angka di rekening bank.
“Selama kita bahagia, sehat, dan tetap produktif, ekonomi itu bisa diatur,” tutupnya.
“Yang penting, anak-anak dan keluarga tetap jadi prioritas.”
Artikel Terkait
El Rumi Resmi Nikahi Syifa Hadju di Jakarta, Ijab Kabul Satu Napas
Aruma Rilis Ulang “Cendana” dalam Bahasa Tagalog Demi Dekati Penggemar Filipina
Penampilan Bad Angel Lisa BLACKPINK di Coachella 2026 Picu Perdebatan Netizen
Ribuan Jamaah Hadiri Pengajian 40 Hari Meninggalnya Vidi Aldiano di Jakarta