Tompi Soroti Lawakan Pandji Soal Fisik Gibran: Bukan Bahan Lelucon

- Selasa, 06 Januari 2026 | 07:40 WIB
Tompi Soroti Lawakan Pandji Soal Fisik Gibran: Bukan Bahan Lelucon

JAKARTA - Pandji Pragiwaksono lagi-lagi bikin perbincangan usai membawakan materi stand-up comedy terbarunya. Dalam lawakan berjudul "Mens Rea" itu, komika sekaligus penulis ini menyentil penampilan fisik sejumlah tokoh, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pandji menyebut perawakan Gibran terlihat seperti orang yang mengantuk.

"Banyak yang memilih pemimpin berdasarkan tampang. Misalnya, Ganjar ganteng ya. Anies manis ya. Prabowo gemoy ya. Atau, wakil presidennya Gibran ngantuk ya? Kayak orang ngantuk kan dia ya. Menurut keyakinan saya," ujar Pandji di atas panggung.

Nah, ucapan Pandji ini akhirnya sampai juga ke telinga Tompi. Ya, musisi yang juga seorang ahli bedah plastik itu rupanya ikut menonton spesial komedi Pandji yang ke-10. Dan dia punya pandangan lain.

Lewat akun Instagramnya, @dr_tompi, Selasa lalu, Tompi memberikan tanggapan sekaligus kritik yang cukup tajam. Baginya, menjadikan kondisi fisik seseorang sebagai bahan lelucon, dalam konteks apapun, itu bukan hal yang cerdas. Malah, itu terkesan malas.

"Apa yang terlihat 'mengantuk' pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON," tulis Tompi dengan tegas.

Tompi tak menampik bahwa kritik dan satire adalah bagian penting dalam diskusi publik. Tapi menurutnya, standar diskusi itu harus dinaikkan. Fokusnya harus pada gagasan dan kinerja, bukan pada hal-hal di luar kendali seseorang seperti bentuk fisik.

"Mari naikkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya. Karena martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline," tambahnya.

Menariknya, Pandji sendiri merespons kritik Tompi dengan cukup lapang. Di kolom komentar, dia menulis balasan singkat, "Keren Tom. Terima kasih koreksinya."

Unggahan Tompi itu langsung ramai. Banyak warganet yang setuju dengan pendapat sang dokter. Seperti akun @notarisbergitar yang berkomentar, kinerja Gibran memang harus dinilai secara berimbang, bukan dari penampilan.

"Tapi kalau ada orang sudah body shaming, sorry to say, dia sama saja menempatkan dirinya di kasta terendah sebagai makhluk hidup. Sebagus apapun materi yang dibawakannya," tulis warganet tersebut.

Di sisi lain, tak sedikit yang menilai Tompi seperti sedang membela sang wakil presiden. Ada yang menyindirnya ingin jadi menteri kesehatan. Bahkan, beberapa netizen curiga ini adalah strategi promosi bedah plastik yang cerdik.

"Pintar banget click bait-nya. Nyambung ke promosi dengan balutan edukasi," kata akun @riyani". Sementara @fuad" menimpali, "Marketing level sundul langit."

Begitulah. Dari panggung komedi sampai ke ruang operasi, perdebatan tentang batasan humor dan etika kritik ternyata masih terus bergulir. Dan seperti biasa, netizen punya bahan baru untuk dikomentari.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar