Isu tentang uang hasil kerja Farel Prayoga kembali ramai. Kali ini, sorotan tajam mengarah pada bagaimana pendapatan penyanyi cilik itu dikelola terutama di tengah gemanya konflik keluarga yang sedang jadi perbincangan.
Pertanyaan itu wajar muncul. Farel melesat terkenal sejak masih anak-anak. Popularitasnya yang meledak membuat banyak orang penasaran, bahkan khawatir. Bagaimana sih aliran keuangannya? Apakah ada sistem yang jelas, atau justru berantakan?
Menanggapi hal ini, manajernya, Rais, akhirnya buka suara. Ia ingin meluruskan asumsi-asumsi yang menurutnya melenceng.
“Pendapatan Farel selama ini dipergunakan untuk kebutuhan keluarga, termasuk biaya hidup dan keperluan sehari-hari,” jelas Rais dalam sebuah keterangan, Senin lalu.
Ia menegaskan, pengelolaan uang Farel punya mekanisme yang jelas. Memang, sebagian digunakan untuk keluarga. Tapi itu disebutnya sebagai bentuk tanggung jawab seorang anak, bukan eksploitasi. Sejak awal karier, segala keputusan keuangan selalu dibicarakan bersama antara manajemen dan keluarganya. Tidak ada yang diputuskan secara sembunyi-sembunyi.
Yang penting, kata Rais, penggunaan uangnya tidak sembarangan.
“Tidak semua uang langsung habis dipakai. Ada yang disimpan dan dipersiapkan untuk pendidikan Farel ke depan,” katanya.
Nah, soal isu eksploitasi ini sendiri mencuat seiring ramainya konflik keluarga Farel. Publik jadi kritis, mempertanyakan batas antara dukungan keluarga dan pemaksaan. Rais membantah keras soal pemaksaan.
Menurutnya, Farel tidak pernah dipaksa bekerja. Setiap jadwal manggung selalu mempertimbangkan kondisi fisik dan mentalnya. Jadwalnya disebut masih wajar, bahkan tidak sampai mengganggu sekolah.
“Kami selalu memastikan Farel tetap sekolah dan tidak kehilangan masa kecilnya,” ucap Rais.
Di sisi lain, kasus ini membuka lagi percakapan soal perlindungan anak di industri hiburan. Banyak yang berharap ada pengawasan lebih ketat untuk artis-artis cilik.
Rais sendiri menyambut baik hal itu. Ia mengaku terbuka jika ada evaluasi atau pendampingan dari lembaga terkait.
“Kalau ada evaluasi atau pendampingan, kami sangat terbuka. Tujuannya sama, untuk melindungi Farel,” tambahnya.
Ia berharap publik bisa melihat persoalan ini dengan kepala dingin. Setiap keluarga punya dinamikanya sendiri, yang tak selalu bisa dinilai dari luar.
Pada akhirnya, kasus Farel ini jadi pengingat yang keras. Popularitas di usia dini itu bukan cuma soal panggung dan sorotan kamera. Ia membawa tanggung jawab besar bagi keluarga, manajemen, dan lingkungan sekitar si anak. Semuanya harus ekstra hati-hati.
Artikel Terkait
Warganet Duga Hubungan Davina dan Ardhito Bagian dari Manajemen Isu
Lnw Fashion Akhiri Endorsement Inara Rusli Usai Protes Netizen
Richard Lee Diperiksa 12 Jam sebagai Tersangka Pelanggaran Perlindungan Konsumen
dr. Richard Lee Penuhi Panggilan Polda, Prihatin Konflik Hukum dengan Sesama Dokter