Raffi Ahmad di Kabinet: Peredam Kritik atau Strategi Legitimasi?

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 22:00 WIB
Raffi Ahmad di Kabinet: Peredam Kritik atau Strategi Legitimasi?

Efek sampingnya jelas: netralitas hilang. "Begitu Raffi masuk, dia gak bisa netral lagi. Bukan karena dia jahat. Tapi karena posisinya bikin dia gak mungkin bebas."

Dampak yang lebih luas justru terjadi di level psikologi massa. Keterlibatan figur populer memobilisasi pembelaan emosional dari basis penggemar atau fans. Menurut analisis, fans menjadi "benteng paling kuat kekuasaan" tanpa digaji. "Karena fans merasa yang dibela itu bukan negara, tapi perasaan mereka sendiri." Mekanisme psikologis seperti halo effect dan identitas kelompok bekerja. Kritik terhadap kebijakan bisa dibaca sebagai serangan terhadap idola, sehingga logika dan fakta seringkali mental. "Negara gak perlu nutup mulut orang. Fans yang bikin orang kapok ngomong."

Proses ini dinilai lebih kuat dari buzzer bayaran. "Karena buzzer bayaran bisa berhenti. Fans gak." Kekuasaan, dengan demikian, tidak melawan naluri manusia, melainkan menungganginya. "Dan begitu politik numpang di rasa sayang, kritik berubah jadi pengkhianatan, pertanyaan berubah jadi kebencian, dan kekuasaan duduk paling nyaman. Tanpa kelihatan jahat."

Analisis ini menekankan bahwa persoalannya bukan pada pribadi Raffi Ahmad sebagai individu, melainkan pada pola dan strategi kekuasaan yang memanfaatkan kepercayaan publik untuk menciptakan suasana yang lebih "ramah" dan kurang kritis.


Halaman:

Komentar

Tags