"Sudah di-warning sama dokternya, 'Bapak jangan sampai pecah lagi, ya. Kalau sampai pecah, bahaya. Tolong dijaga'," kata Richa menirukan.
Namun begitu, nasib berkata lain. Kecelakaan maut di akhir November itu menghantam tubuh Gary dengan benturan yang sangat keras. Menurut Richa, benturan itulah yang memicu pendarahan luar biasa dan memperburuk keadaannya dengan cepat.
"Nah, pas kejadian kecelakaan kemarin, mungkin karena benturannya terlalu keras, akhirnya pecah lagi," ujarnya dengan nada berat.
Gary Iskak menghembuskan napas terakhirnya di RSPPN Dr. Suyoto, Bintaro. Ironisnya, saat itu keluarga justru sedang berupaya memindahkannya ke fasilitas kesehatan lain.
Rumah sakit tersebut dinilai tidak memiliki dokter spesialis gastroenterologi yang dibutuhkan untuk menangani kasus Gary yang berkaitan dengan sistem pencernaan. Kekurangan ini membuat keluarga kalang kabut.
"Dokter bilang harus ada dokter gastro, tapi di sana tidak ada. Kami lagi riweuh ngurusin mau pindahin dia karena itu kan berhubungan sama lambung," tutur Richa menjelaskan situasi kritis saat itu.
Artikel Terkait
Fadly Faisal Kenang Lula: Dia Traveling ke Eropa, Tapi Pesan Rendang
Tabung Pink di Apartemen Dharmawangsa: Kematian Lula Lahfah Tetap Jadi Misteri
Irfan Hakim Buka Suara Soal Video yang Dituduh Normalisasi Penelantaran Anak
Ammar Zoni Mohon Tak Dikembalikan ke Nusakambangan Usai Sidang