Lalu, apa yang membuatnya memilih "Pelangi di Mars"?
"Tentunya karena membawa nama negara, saya harus memilih film mana yang disupport," imbuhnya. Pilihannya jatuh pada film yang melibatkan lebih dari 200 tenaga kreatif mulai dari animator, teknisi, hingga kru dari berbagai penjuru Indonesia.
Yang membuat film ini istimewa adalah statusnya sebagai produksi nasional pertama yang mengadopsi teknologi virtual production, game engine, dan motion capture. Secara teknis, kualitasnya disebut-sebut setara dengan standar Hollywood.
Ifan tampak antusias. "Film ini merealisasikan ide seliar apapun dari sutradara," katanya. "Mungkin ini film pertama Indonesia yang akhirnya Indonesia jadi 'jagoan' di antara seluruh jagoan dunia."
Di balik layar, "Pelangi di Mars" adalah garapan sutradara Upie Guava dengan Dendi Reynando sebagai produser. Film ini bercerita tentang Pelangi (diperankan Messi Gusti), manusia pertama yang lahir di Mars dan tumbuh bersama robot-robot cerdas yang bertugas menyelamatkan bumi.
Lebih dari sekadar tontonan fiksi ilmiah, film ini menjanjikan paduan genre yang kaya: drama keluarga, petualangan, sains, dan tentu saja, visual effects yang diharapkan bisa menghadirkan pengalaman sinematik tak terlupakan.
Dijadwalkan tayang pada 2026, "Pelangi di Mars" juga menampilkan deretan pemain seperti Myesha Lin Adeeva, Lutesha, Livy Renata, dan Rio Dewanto. Sebuah karya yang tak hanya menghibur, tapi juga membawa harapan baru bagi industri film tanah air.
Artikel Terkait
Doktif Beri Ultimatum: Richard Lee Diminta Bertobat dan Bayar Pajak Rolls-Royce
Firdaus Oiwobo Buka Suara: Saya Pernah Bakar Rumah Orang di Cengkareng
Inara Rusli Ungkap Rasa Mual Dengar Pernyataan Cinta Fahmi untuk Dua Wanita
Dinda Hauw dan Rey Mbayang Buka Suara: Jangan Terlalu Banyak Ekspektasi, Kita Bukan Malaikat