"Punya anak itu harus merasa aman. Aku perlu yakin ada orang di sekitarku yang akan membantu mengasuh anak bersama. Karena rasa takut itu, aku selalu menunda-nunda rencana punya anak," jelas Marissa tentang trust issue yang dihadapinya.
Kesulitan Hamil di Usia Tua dan Penolakan IVF
Ketika akhirnya merasa siap secara mental di akhir usia 30-an, Marissa menghadapi kendala fisik. Kondisi tubuh yang sudah tidak optimal membuat pasangan ini kesulitan mendapatkan keturunan secara alami.
Marissa juga memutuskan tidak menjalani program bayi tabung atau IVF. Ia mengungkapkan ketidaknyamanan dengan proses medis tersebut, menekankan bahwa memiliki anak harus melalui proses yang dinikmati sepenuhnya.
Pasrah dan Menerima Peran Lain
Di usia 42 tahun, Marissa mengaku ikhlas dengan kondisinya. Baginya, tidak menjadi ibu bukan akhir segalanya. Masih banyak peran bermakna lain yang bisa dijalani, seperti menjadi tante bagi keponakan atau ibu baptis.
"Kalau terjadi ya terjadi, kalau tidak terjadi, ada opsi hidup yang lain. Aku tidak harus jadi ibu, aku bisa jadi tante, bisa jadi godmother jika aku siap," tutup Marissa dengan bijak.
Pernikahan Marissa Anita dan Andrew Trigg yang berlangsung sejak 2008 ini sebelumnya dikenal harmonis dan jauh dari kabar miring. Kini, hubungan mereka memasuki babak baru melalui proses hukum perceraian.
Artikel Terkait
Umi Pipik: Tanpa Buka Cadar, Mawa Tetap Dilirik Banyak Brand
Celine Evangelista Persembahkan Anak-anaknya dalam Tawaf Penuh Makna
Ridwan Kamil dan Atalia: Kompak Jaga Anak di Tengah Badai Perceraian
Gilang Dirga Bertekad Tinggalkan Rokok Usai Ditinggal Ayah Akibat Serangan Jantung