Artis Amanda Manopo mengungkapkan bahwa putranya, Baby Zac, memiliki alergi terhadap susu sapi dan harus waspada terhadap konsumsi ikan. Kondisi ini memaksa Amanda untuk lebih selektif dalam memilih makanan karena ia masih dalam masa menyusui sang buah hati.
Kasus yang dialami Baby Zac sebenarnya bukanlah kondisi yang langka. Alergi makanan, khususnya alergi susu sapi, termasuk salah satu jenis alergi yang paling sering ditemukan pada bayi dan anak-anak. Menurut para ahli, kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengenali protein dalam makanan sebagai zat berbahaya, sehingga memicu reaksi alergi.
Berdasarkan penjelasan Mayo Clinic, alergi susu sapi bukan disebabkan oleh kandungan laktosa, melainkan respons sistem imun terhadap protein susu seperti kasein dan whey. Saat protein tersebut masuk ke tubuh, sistem imun memproduksi antibodi yang memicu pelepasan zat kimia seperti histamin, sehingga muncul gejala alergi. Pada bayi yang masih mendapat ASI eksklusif, protein susu sapi yang dikonsumsi ibu juga dapat berpindah dalam jumlah kecil melalui ASI dan memicu reaksi pada bayi yang sensitif. Karena itu, beberapa ibu menyusui perlu menghindari produk berbahan susu atas rekomendasi dokter.
Sementara itu, para ahli mengidentifikasi sejumlah faktor yang meningkatkan risiko seorang anak mengalami alergi makanan, termasuk alergi susu dan ikan. Faktor-faktor tersebut meliputi riwayat alergi dalam keluarga, memiliki eksim atau dermatitis atopik, memiliki alergi makanan lain, usia bayi dan balita yang sistem pencernaannya masih berkembang, serta riwayat penyakit alergi seperti asma atau rhinitis alergi dalam keluarga. Anak yang memiliki kulit sensitif atau eksim juga diketahui lebih berisiko mengalami alergi makanan dibandingkan anak tanpa gangguan kulit atopik.
Gejala alergi susu atau alergi ikan pada bayi dapat berbeda-beda. Sebagian hanya mengalami reaksi ringan, tetapi ada pula yang mengalami gejala berat. Tanda-tanda umum meliputi ruam merah pada kulit, gatal-gatal atau biduran, wajah atau bibir membengkak, muntah, diare, sakit perut atau kolik, mengi dan sesak napas, serta kulit mudah kemerahan setelah terpapar alergen. Dalam kasus yang jarang tetapi berbahaya, alergi makanan dapat memicu anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang menyebabkan gangguan pernapasan dan penurunan tekanan darah sehingga memerlukan pertolongan medis darurat.
Di sisi lain, alergi ikan juga bisa terjadi pada bayi. Ikan termasuk salah satu makanan yang paling sering memicu alergi makanan. Reaksi alergi muncul karena sistem imun menganggap protein tertentu dalam ikan sebagai ancaman. Pada sebagian anak, alergi ikan dapat bertahan hingga dewasa, berbeda dengan alergi susu yang sering kali membaik seiring pertambahan usia. Karena itu, jika seorang bayi menunjukkan gejala setelah terpapar ikan, baik secara langsung maupun melalui ASI, orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter anak atau dokter spesialis alergi-imunologi untuk memastikan diagnosisnya.
Kabar baiknya, sebagian besar anak dengan alergi susu sapi akan mengalami toleransi seiring pertumbuhan. Mayo Clinic menyebut banyak anak dapat mengatasi alergi susu ketika sistem pencernaan dan sistem imunnya semakin matang. Namun prosesnya berbeda pada setiap anak sehingga tetap memerlukan pemantauan dokter. Karena itu, langkah terpenting bagi orang tua adalah mengenali gejala sejak dini, menghindari makanan pemicu alergi, serta memastikan kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi melalui pengawasan tenaga medis.
Artikel Terkait
Sarah Tumiwa Banjir Hujatan Usai Unggah Foto Fuji Dipangku Rakin Khan, Netizen Nilai Langgar Privasi
Kevin Gusnadi Beri Kejutan Romantis di Ulang Tahun ke-34 Ayu Ting Ting
Aktor Icuk Nugroho, Pemeran Saep di Sinetron Preman Pensiun, Meninggal Dunia
Aktor Preman Pensiun Icuk Nugroho Meninggal Dunia Setelah Dirawat karena Gangguan Jantung