Kemenkes Peringatkan Dampak Pornografi Berlebihan pada Kesehatan Mental dan Sosial

- Jumat, 24 April 2026 | 23:30 WIB
Kemenkes Peringatkan Dampak Pornografi Berlebihan pada Kesehatan Mental dan Sosial

JAKARTA Banyak orang menganggap pornografi sebagai pelarian cepat saat stres. Sekali klik, dopamin langsung mengalir di otak, bikin perasaan lega seketika. Tapi jangan salah, di balik efek instan itu, ada sederet bahaya yang mengintai, terutama buat kesehatan mental. Lewat unggahan di Instagram resminya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperingatkan bahwa kebiasaan nonton konten pornografi secara berlebihan bisa memicu gangguan psikologis. Bahkan, dampaknya bisa merembet ke kehidupan sosial seseorang. Salah satu yang jadi sorotan adalah munculnya kecanduan ringan. Ini terjadi karena lonjakan dopamin yang terus-menerus. Meski kelihatannya sepele, otak jadi menganggap pornografi sebagai “tempat kabur” saat tekanan datang. Alhasil, dorongan untuk mengulang kebiasaan itu makin kuat. Di sisi lain, ketergantungan pada stimulasi instan bikin seseorang terbiasa cari jalan pintas buat meredakan stres. Efeknya? Muncul rasa tidak puas, gampang bosan, dan kemampuan fokus jadi menurun. Konsentrasi pun ikut kena imbasnya. Menurut Kemenkes, rasa tenang yang didapat setelah menonton pornografi itu cuma sementara. Stresnya nggak beneran hilang, cuma ditunda. Begitu efeknya reda, masalah yang sama bakal balik lagi. Nah, kondisi ini sering bikin orang merasa bersalah, kehilangan kendali, bahkan percaya diri jadi anjlok. Nggak jarang, mereka terjebak dalam dilema: ingin berhenti, tapi tetap aja kembali karena efek candu yang susah dilepas. Dampaknya juga terasa di hubungan sosial. Semakin sering seseorang mengonsumsi konten pornografi, makin sulit dia menjalin interaksi nyata. Hubungan yang bermakna jadi terasa hambar. Apalagi, ekspektasi terhadap pasangan bisa melenceng jauh dari kenyataan. Akibatnya, kualitas hubungan emosional menurun karena yang dikejar cuma stimulasi instan, bukan koneksi yang sehat. Untuk keluar dari jeratan ini, Kemenkes kasih beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba sehari-hari. Pertama, kenali pola kebiasaan sendiri. Kapan dorongan itu muncul? Apa pemicunya? Kalau udah tahu, bakal lebih gampang dihindari. Kedua, kurangi faktor pemicu. Misalnya, terlalu banyak waktu luang tanpa kegiatan jelas, atau kebiasaan scroll-scroll tanpa tujuan. Itu semua bisa jadi pintu masuk buat kambuh. Ketiga, ganti kebiasaan lama dengan aktivitas positif. Olahraga, hobi, atau kegiatan produktif lain bisa jadi alternatif yang lebih sehat buat mengelola stres. Lewat edukasi semacam ini, Kemenkes berharap masyarakat bisa lebih bijak dalam menghadapi stres. Jangan sampai ketergantungan pada cara instan malah bikin masalah baru yang lebih besar dalam jangka panjang.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar