Nah, usai Iran, giliran siapa? Isyarat tentang Kuba ini sebenarnya bukan hal baru. Senator Republik Lindsey Graham sudah lebih dulu bersuara. "Kuba selanjutnya," katanya dalam wawancara dengan Fox News, Minggu lalu. Trump sendiri, dalam percakapan terpisah dengan Politico, memprediksi dengan lugas: begitu pemerintah Iran tumbang, "Kuba juga akan jatuh."
Klaim keberhasilan juga dilontarkan Trump. Dia bilang tekanan ekonominya berhasil memaksa Havana ingin bernegosiasi. "Kami memutus semua pasokan minyak, semua uang," katanya kepada Politico. "Dan mereka ingin membuat kesepakatan."
Faktanya, sejak awal Januari, tak ada satu pun kapal pengangkut minyak yang berhasil merapat ke Kuba. Akibatnya, penerbangan dibatalkan, pemadaman listrik merajalela, dan krisis ekonomi yang sudah pelik jadi makin runyam. Blokade AS terhadap minyak Venezuela – sumber vital Kuba – adalah pukulan utamanya. Ditambah tekanan AS pada Meksiko untuk menghentikan pengiriman, pulau itu benar-benar terisolasi.
Operasi serupa di Venezuela jadi preseden. Trump pernah menyatakan AS akan "sangat terlibat" dalam menentukan siapa pengganti Nicolas Maduro. Kini, dia mengisyaratkan hal yang sama bisa terjadi di Havana. Menangkap Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, dalam pandangannya, adalah operasi yang "tidak akan terlalu sulit."
Semuanya kini bergantung pada waktu. Dan Trump tampaknya sedang menghitungnya.
Artikel Terkait
Dokter Richard Lee Ditahan sebagai Tersangka Usai Pemeriksaan di Polda Metro Jaya
Malam Nuzulul Quran: Mengenang Turunnya Wahyu Pertama dan Hikmah bagi Umat
Doa Hari ke-17 Ramadhan: Momentum Mustajab untuk Mohon Ampunan dan Keberkahan
Babak Lima Besar Cahaya Muda Indonesia, Satu Peserta Akan Tersingkir