Pantangan Imlek: Tradisi Menjaga Keberuntungan dari Hari Pertama hingga Cap Go Meh

- Selasa, 17 Februari 2026 | 16:10 WIB
Pantangan Imlek: Tradisi Menjaga Keberuntungan dari Hari Pertama hingga Cap Go Meh

MURIANETWORK.COM - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, berbagai tradisi dan pantangan turun-temurun kembali menjadi perhatian. Bagi masyarakat Tionghoa, apa yang dilakukan pada hari-hari pertama tahun baru, khususnya hari pertama hingga Cap Go Meh (hari ke-15), diyakini dapat mempengaruhi nasib dan keberuntungan sepanjang tahun mendatang. Oleh karena itu, sejumlah kebiasaan tertentu kerap dihindari untuk menarik energi positif dan menjauhkan hal-hal yang dianggap membawa kesialan.

Menjaga Energi Positif di Awal Tahun

Keyakinan ini berakar pada filosofi untuk memulai tahun dengan langkah terbaik. Perilaku, ucapan, bahkan aktivitas domestik sehari-hari mendapat perhatian khusus. Tujuannya jelas: menciptakan fondasi yang kuat bagi kesehatan, rezeki, dan harmoni keluarga di bulan-bulan berikutnya. Pantangan-pantangan yang ada bukan sekadar larangan, melainkan bagian dari upaya kolektif untuk menyambut tahun baru dengan penuh harap dan kehati-hatian.

Pantangan Terkait Kesehatan dan Rumah Tangga

Beberapa larangan paling ketat berkaitan dengan kesehatan dan pemeliharaan rumah. Misalnya, mengonsumsi obat di hari pertama Imlek dianggap dapat mengundang sakit yang berlarut sepan tahun. Tradisi di beberapa daerah bahkan menunjukkan wadah obat sengaja dipecahkan pada tengah malam sebagai simbol pengusiran penyakit.

Begitu pula dengan aktivitas membersihkan rumah. Menyapu atau membuang sampah pada hari pertama dikhawatirkan akan turut "menyapu" keluar keberuntungan dan rezeki yang seharusnya masuk. Itulah sebabnya banyak keluarga memastikan rumah sudah bersih dan rapi sebelum malam tahun baru tiba.

Pantangan dalam Ucapan dan Konsumsi

Nuansa kehati-hatian juga sangat kental dalam bertutur kata. Pembicaraan tentang hal-hal negatif seperti kematian, sakit, atau kemiskinan sedapat mungkin dihindari. Ucapan dianggap memiliki kekuatan untuk menarik energi, sehingga orang lebih memilih menggunakan istilah yang membawa konotasi positif.

Pantangan bahkan meluas ke meja makan. Menikmati bubur untuk sarapan, misalnya, kerap dihindari karena bubur dikaitkan dengan kemiskinan. Sementara itu, beberapa tradisi juga menyarankan untuk tidak menyantap daging di pagi hari sebagai bentuk penghormatan kepada dewa-dewa.

Larangan yang Berkaitan dengan Kekayaan dan Harmoni

Banyak pantangan Imlek berhubungan dengan permainan bunyi dalam bahasa Mandarin, yang diyakini dapat mempengaruhi nasib. Mencuci rambut atau memotongnya di hari pertama, contohnya, dianggap dapat "mencuci" atau "memotong" keberuntungan. Hal ini karena kata "rambut" (fa) memiliki pelafalan yang mirip dengan kata dalam "fa cai" yang berarti makmur.

Prinsip serupa berlaku untuk mencuci pakaian, di mana air yang mengalir dikhawatirkan membawa serta aliran kekayaan. Penggunaan alat tajam seperti gunting, pisau, atau aktivitas menjahit juga dihindari karena dikaitkan dengan potensi konflik atau keretakan dalam rumah tangga.

Perhatian dalam Tradisi Memberi Angpao

Tradisi memberi angpao pun memiliki aturan tidak tertulisnya sendiri. Jumlah uang di dalamnya sebaiknya berupa angka genap, karena angka ganjil sering dikaitkan dengan urusan duka. Angka empat, yang pelafalannya mirip dengan kata "mati", juga umumnya dihindari untuk mencegah asosiasi negatif.

Dengan memahami makna di balik setiap pantangan, terlihat bahwa tradisi Tahun Baru Imlek sarat dengan harapan akan permulaan yang mulus, penuh rezeki, dan dijauhkan dari malapetaka. Semua larangan ini pada akhirnya bertujuan untuk mengarahkan niat dan tindakan menuju kebaikan di tahun yang baru.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar