Di tengah banjir informasi digital, ada satu peran yang tetap tak tergantikan: guru. Mereka bukan sekadar penyampai ilmu. Lebih dari itu, guru adalah arsitek karakter, penanam nilai, dan pembentuk cara berpikir anak-anak kita. Teknologi secanggih apapun rasanya sulit menggantikan kehangatan interaksi dan keteladanan langsung di ruang kelas. Ruang itu sendiri seringkali sederhana, bahkan apa adanya. Tapi justru dari kesederhanaan itulah, semangat dan nilai-nilai kebermanfaatan ditularkan. Hal ini sejalan dengan semangat pemberdayaan, bahwa perubahan besar kerap berawal dari langkah-langkah kecil yang tulus dan konsisten.
Ambil contoh kisah dari Serang, Banten. Seorang perempuan bernama Hikayati, yang merupakan binaan PNM Mekaar, menjalani hari-harinya dengan peran ganda. Di satu sisi, ia adalah seorang guru MDTA (Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah). Setiap hari, dengan penuh keikhlasan, ia mengajar di sebuah ruang belajar yang amat sederhana. Hanya beralaskan lantai.
Namun begitu, semangatnya tak pernah luntur. Baginya, kebahagiaan datang bukan dari materi, melainkan dari sorot mata anak didiknya yang mulai bisa membaca, menulis, dan menghafal doa.
“Kami memang belajar di lantai, tapi saya selalu bilang ke anak-anak, mimpi kita harus setinggi langit,” ujar Hikayati.
Artikel Terkait
Suka Duka Tawa: Kisah Luka Fatherless yang Disembuhkan dengan Maaf dan Tawa
Dhani Murka, Bantah Keras Klaim Maia Soal Kontrakan Pondok Indah
Dunia Musik Berduka, Ryan Kyoto Pencipta Lagu Legendaris Meninggal Dunia
Mitos ASI Tak Cukup: Saat Konselor Laktasi Jadi Penyelamat Kepercayaan Diri Ibu