Di Lantai Sederhana, Guru Ini Menanam Mimpi Setinggi Langit

- Kamis, 29 Januari 2026 | 12:30 WIB
Di Lantai Sederhana, Guru Ini Menanam Mimpi Setinggi Langit

Di tengah banjir informasi digital, ada satu peran yang tetap tak tergantikan: guru. Mereka bukan sekadar penyampai ilmu. Lebih dari itu, guru adalah arsitek karakter, penanam nilai, dan pembentuk cara berpikir anak-anak kita. Teknologi secanggih apapun rasanya sulit menggantikan kehangatan interaksi dan keteladanan langsung di ruang kelas. Ruang itu sendiri seringkali sederhana, bahkan apa adanya. Tapi justru dari kesederhanaan itulah, semangat dan nilai-nilai kebermanfaatan ditularkan. Hal ini sejalan dengan semangat pemberdayaan, bahwa perubahan besar kerap berawal dari langkah-langkah kecil yang tulus dan konsisten.

Ambil contoh kisah dari Serang, Banten. Seorang perempuan bernama Hikayati, yang merupakan binaan PNM Mekaar, menjalani hari-harinya dengan peran ganda. Di satu sisi, ia adalah seorang guru MDTA (Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah). Setiap hari, dengan penuh keikhlasan, ia mengajar di sebuah ruang belajar yang amat sederhana. Hanya beralaskan lantai.

Namun begitu, semangatnya tak pernah luntur. Baginya, kebahagiaan datang bukan dari materi, melainkan dari sorot mata anak didiknya yang mulai bisa membaca, menulis, dan menghafal doa.

“Kami memang belajar di lantai, tapi saya selalu bilang ke anak-anak, mimpi kita harus setinggi langit,” ujar Hikayati.

Di sisi lain, Hikayati juga seorang ibu yang tangguh. Untuk menopang ekonomi keluarga, ia mengembangkan usaha kecilnya. Dukungan yang diterimanya membantunya menjaga keseimbangan yang sulit ini. Ia bisa tetap fokus mengajar, tanpa harus meninggalkan panggilan hatinya sebagai pendidik. Inilah yang menarik dari pendekatan pemberdayaan: bukan cuma soal modal, tapi juga pendampingan berkelanjutan. Dampaknya nyata, membantu seseorang bertahan di dua peran penting sekaligus.

Menanggapi kisah ini, Sekretaris Perusahaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary, berbagi pandangannya.

“Kisah Ibu Hikayati menunjukkan bahwa saat seorang perempuan diberi akses untuk berdaya, ia tetap bisa mengabdi sambil menguatkan keluarganya. Kami percaya, ketika seorang ibu tumbuh, dampaknya terasa sampai ke anak-anak yang ia didik dan masa depan yang sedang mereka siapkan.”

Pada akhirnya, cerita ini adalah pengingat. Peran guru dan ketangguhan seorang ibu adalah dua kekuatan yang saling mengisi. Dari ruang belajar yang sederhana dan usaha yang dijalani dengan tekun, lahirlah generasi yang lebih berilmu dan keluarga yang lebih mandiri. Guru menanamkan benih harapan, sementara ibu yang tangguh membuktikan bahwa pengabdian dan kemandirian ekonomi bisa berjalan beriringan. Bersama, mereka adalah cahaya yang perlahan tapi pasti menerangi sekelilingnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar