Klip Bajakan Serbu Medsos, Produser Film Gigit Jari

- Jumat, 16 Januari 2026 | 13:10 WIB
Klip Bajakan Serbu Medsos, Produser Film Gigit Jari

JAKARTA – Fenomena klip film ilegal yang membanjiri media sosial kini jadi sorotan utama Badan Film Nasional (BFN). Bukan cuma satu dua cuplikan, melainkan potongan demi potongan yang disusun rapi, seolah-olah penonton bisa menikmati jalan ceritanya tanpa perlu membayar. Situasi ini, tentu saja, bikin produser film pusing tujuh keliling.

Plt Kepala BFN, Celerina Judisari, tak menyembunyikan kekhawatirannya. Bayangkan saja, para produser masih sibuk menghitung proyeksi pendapatan dari layar lebar, eh, filmnya sudah dibongkar dan disebar luas di platform seperti TikTok atau Instagram.

"Biasanya produser akan bermimpi, nanti uangnya akan kembali dari satu dua tiga dari bioskop admission. Eh, udah dicolong sama klipernya kan? Gitu kan satu. Itu udah sakit nih,"

keluhnya dalam Konferensi Pers Hasil Riset Kerugian Pembajakan Film dan Konten di Indonesia, Kamis (15/1/2025) lalu.

Menurut Celerina, masalahnya justru kian menjadi-jadi saat film resmi pindah ke platform streaming. Kalau di bioskop masih ada batasan teknis, lain cerita saat tayang di layanan OTT seperti Vision , Vidio, atau Netflix.

"Pada saat di bioskop itu masih bisa ditahan," ujarnya. "Tetapi pada saat sudah masuk ke OTT, saat sekali masuk itu dalam sekian detik sudah sampai pada clipper-clipper tadi."

Prosesnya begitu cepat, hampir mustahil dicegah. Yang jelas, ini semua sangat disayangkan. Membuat film itu bukan pekerjaan mudah. Butuh tenaga, waktu, dan tentu saja, biaya yang tidak sedikit.

Celerina khawatir dampak jangka panjangnya akan serius. Industri film bisa mandek, bahkan merosot. Kalau uang tidak kembali ke produser, dari mana lagi dana untuk produksi film berkualitas di masa depan?

"Enggak gampang lho untuk bikin film, dan enggak murah. Kalau itu tidak kembali uangnya, kami tidak bisa berinvestasi lagi membuat film yang baik," ungkapnya tegas.

Di sisi lain, BFN sendiri tak tinggal diam. Mereka punya tim yang aktif mengirim permintaan penghapusan konten bajakan, misalnya ke YouTube. Namun, upaya itu seperti mengejar bayangan. Jumlah konten yang muncul jauh lebih banyak dan cepat ketimbang proses take down.

"Tapi kan nggak bisa setiap hari begitu, setiap saat,"

tandas Celerina. Harapannya sederhana: karya anak bangsa bisa terlindungi hak ciptanya, sehingga ekosistem perfilman tetap hidup dan terus berkembang.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar