Rasanya nyaman, hangat, bahkan penuh gairah. Tapi begitu bicara soal "ke depan gimana?", tiba-tiba ada sesuatu yang mengunci. Bukan berarti tak ada cinta, lho. Justru kadang, karena sayangnya terlalu dalam, rasa takut untuk kehilangan atau terluka itu jadi begitu besar. Pengalaman gagal di masa lalu pun kerap jadi hantu yang mengintai. Alhasil, ketika hubungan mulai mengarah ke jenjang yang lebih serius, naluri pertama malah kabur. Inilah yang sering disebut commitment issue ketakutan untuk terikat dalam jangka panjang.
Intinya, seseorang bisa sangat menikmati kedekatan, tapi gelisah luar biasa saat obrolan mulai menyentuh arah, kepastian, dan masa depan. Komitmen dianggap sebagai risiko emosional yang mengerikan. Bukan karena tak sayang, tapi lebih karena pertahanan diri yang sudah dibangun kokoh.
Menurut Reshawan Chapple, PhD, LCSW, psikolog klinis asal Amerika Serikat, tanda-tandanya bisa beragam.
"Tanda-tanda orang yang takut akan komitmen di antaranya meliputi ketidakmampuan untuk menjalin hubungan yang serius, kesulitan membaca emosi dan melakukan penyesuaian dengan pasangan, sulit berkompromi, hingga ketidakmampuan untuk melihat diri sendiri dalam sebuah hubungan," jelasnya.
Mengenali Tanda-Tandanya
Yang paling kentara? Kecenderungan untuk menjaga segalanya tetap kasual. Hubungan terasa menyenangkan selama tak ada tuntutan soal "besok". Begitu ekspektasi muncul, semuanya terasa berat. Tak heran, banyak yang memilih mengakhiri hubungan justru ketika segalanya mulai serius, meski tak ada konflik besar sekalipun.
Di sisi lain, sikapnya terhadap pasangan seringkali terasa setengah-setengah. Secara fisik ia hadir, tapi secara emosional sulit dijangkau. Percakapan cenderung ringan dan selalu menghindar dari topik mendalam tentang perasaan atau masa depan. Coba dibahas serius? Responsnya akan mengambang, atau topiknya dialihkan dengan cepat.
Konsistensi juga jadi masalah. Balas pesan bisa lama sekali, rencana sering berubah-ubah mendadak, dan ia hampir tak pernah melibatkanmu dalam rencananya untuk waktu yang akan datang. Pola-pola ini, sadar atau tidak, adalah cara mereka menjaga jarak aman agar tidak terlalu terikat.
Akar Masalahnya dari Mana?
Biasanya, semua ini berakar dari pengalaman lama. Hubungan yang berakhir pedih, pengkhianatan, atau kehilangan emosional bisa membentuk tembok pertahanan yang tebal. Pola asuh dan dinamika keluarga masa kecil juga punya peran besar dalam membentuk gaya seseorang dalam menjalin keterikatan.
Ambil contoh orang dengan gaya kelekatan menghindar (avoidant attachment). Mereka cenderung menjaga jarak emosional saat merasa terlalu dekat. Bagi mereka, komitmen sering terasa seperti ancaman terhadap kebebasan dan kendali atas diri sendiri. Yang rumit, ketakutan ini sering bekerja dalam alam bawah sadar. Seseorang bisa saja menjauh, tanpa benar-benar paham apa penyebab pastinya.
Lalu, Bagaimana Mengatasinya?
Mengatasi ini semua bukan soal memaksakan perubahan drastis dalam semalam. Langkah awal yang paling penting adalah mengenali dan, yang lebih sulit, menerima keberadaan ketakutan itu tanpa langsung menghakimi diri sendiri. Berkonsultasi dengan profesional seperti psikolog bisa membuka ruang aman untuk menelusuri akar emosi dan pola hubungan yang terus berulang.
Komunikasi yang jujur dengan pasangan juga krusial. Selain itu, coba bangun komitmen-komitmen kecil dulu. Buat rencana sederhana untuk minggu depan, lalu tepati. Latihan kecil seperti ini bisa membantu membangun rasa aman, setahap demi setahap.
Artikel Terkait
Sarwendah Minta Maaf Usai Viral Sindir Ruben Onsu dengan Kata Cong, Kuasa Hukum Soroti Dampak ke Anak
Via Vallen Kena Body Shaming, Sindir Netizen: Ibu Menyusui Disuruh Diet Demi Standar Kecantikan
Cinta Laura Ajak Generasi Muda Manfaatkan Ruang Publik untuk Atasi Krisis Sosialisasi Akibat Gawai
Aktor Dracin Jin Ze Meninggal Mendadak di Usia 33 Tahun, Agensi Minta Publik Hormati Privasi Keluarga