JAKARTA – Bayangkan suasana wisuda itu. Biasanya, orang tua yang berdiri bangga di samping anak mereka. Tapi di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, ada pemandangan langka: tiga orang sekeluarga, mengenakan toga, diwisuda bersama. Mereka adalah Dr. Elisatin Ernawati, S.H., M.Kn., Dr. Ahmad Syaifudin, S.H., M.H., dan putri mereka, Salma Sari Dewi, S.H.
Bagi Elisatin, momen ini bukan sekadar seremoni. Ia menyebutnya sebagai kristalisasi dari perjalanan akademik yang sulit. Bayangkan saja, mereka bertiga harus berjibaku dengan tumpukan buku dan penelitian, membagi waktu dan energi yang terbatas. Sang orang tua mengejar gelar doktor, sementara sang anak menyelesaikan strata satu. Prosesnya panjang dan melelahkan.
“Ketika kami bertiga akhirnya bisa menyelesaikan studi dan lulus bersama, itu adalah momen yang paling menakjubkan, hadiah tak ternilai dari Allah SWT,”
katanya, penuh syukur.
Di sisi lain, kebahagiaan ini punya latar yang sedikit getir. Mereka justru saling menjadi sandaran. Orang tua dari suaminya telah tiada, sementara orang tuanya sendiri sedang sakit. Jadi, dalam ruang sidang yang ramai itu, mereka bertigalah yang menjadi sistem pendukung utama satu sama lain. “Kami mengabadikan momen ini dengan rasa syukur,” ujar Elisatin.
Artikel Terkait
Bassist Rams, Putra Promotor Edy Torana, Diterima di Program Magister Hukum Oxford
SNBP 2026: Daya Tampung Terbatas, Peluang Masuk Prodi Favorit di Bawah 5%
Shilla dan Rafka Bersekutu, Ancam Ayuna dan Rafki di Mencintai Ipar Sendiri
Hasil SNBP 2026 Diumumkan Besok, 31 Maret, untuk 806 Ribu Peserta