Barang Berharga Raib, Ternyata Korban Semangat Balita Belajar Buang Sampah

- Jumat, 26 Desember 2025 | 17:06 WIB
Barang Berharga Raib, Ternyata Korban Semangat Balita Belajar Buang Sampah

Masa balita itu benar-benar masa emas, ya. Di usia ketika si kecil mulai menyerap segala hal di sekitarnya, orang tua punya kesempatan berharga untuk menanamkan kebiasaan baik. Salah satunya, sesuatu yang sederhana tapi penting: membuang sampah pada tempatnya. Tentu saja, caranya harus lewat contoh dan rutinitas sehari-hari, bukan sekadar perintah.

Tapi, jangan harap prosesnya langsung mulus. Pengalaman seorang ibu, Mery Nelita, bisa jadi buktinya. Lewat akun Instagram-nya, ia bercerita tentang anaknya yang berusia satu setengah tahun. Si kecil sedang giat-giatnya diajari buang sampah. Hasilnya? Bikin geleng-geleng sekaligus ngakak.

Beberapa barang di rumahnya mulai raib. Pasta gigi, losion, dan beberapa benda lain tiba-tiba hilang begitu saja. Setelah dicari-cari, ternyata semua barang "korban" itu berakhir di dalam tong sampah. Rupanya, sang anak yang dengan semangat menjalankan "tugas" barunya itu.

Uniknya, cerita ini ternyata tak cuma dialami Mery. Banyak warganet yang ikut nimbrung dan mengaku mengalami hal serupa. "Anakku juga gitu, baru beli sabun batang langsung lenyap, eh ketemu di tempat sampah," kira-kira begitu komentar salah satunya. Lucu sih, tapi bikin penasaran juga. Sebenarnya, kapan sih anak bisa benar-benar paham konsep 'sampah' itu?

Memahami Kapan Anak Bisa Membedakan

Menurut Raden Mutiara Puspa Wijaya, M.Psi., seorang Psikolog Klinis, memang tidak bisa instan. Balita belum serta merta paham konsep sampah sejak dini.

“Anak bisa mulai dikenalkan konsep membuang sampah sekitar usia 2 sampai 3 tahun. Tergantung perkembangan bahasanya juga,” jelas Mutiara.

“Cara mengenalkannya harus simpel dan konkret. Jangan yang abstrak-abstrak.”

Nah, di usia batita, sekitar 1,5 hingga 2 tahun, kemampuan membedakan benda dan sampah itu belum ada. Pada fase ini, si kecil lebih banyak meniru. Ia melihat orang tuanya membuang sesuatu ke tong, lalu ia pun melakukan hal yang persis sama tanpa peduli objeknya apa. Makanya, jangan kaget kalau barang berharga ikut terbuang. Bagi mereka, semua benda bisa diperlakukan sama: masuk ke tempat yang itu-itu saja.

Jadi, di tahap awal ini, fokus orang tua sebaiknya pada pembiasaan, bukan pemahaman. Tunjukkan rutinitas sederhana. Misalnya, membuang bungkus permen setelah dibuka, atau melempar tisu bekas pakai ke keranjang. Aktivitas repetitif ini akan membentuk memorinya, meski makna di baliknya belum sepenuhnya ia cerna.

“Anak belajar dari role model terdekatnya, yaitu orang tua. Lewat kebiasaan yang konsisten, ia akan menangkap polanya secara bertahap,” tambah Mutiara.

Barulah nanti, saat menginjak usia tiga tahun ke atas, kemampuan kognitifnya berkembang. Di sinilah ia mulai bisa membedakan mana sampah yang harus dibuang, dan mana barang yang masih dipakai. Prosesnya bertahap, butuh kesabaran, tapi hasilnya akan terlihat dari kebiasaan baik yang tertanam sejak dini.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar