Malam Hari Menguak Pesona: Tren Wisata Nokturnal yang Menyihir Dunia

- Sabtu, 22 November 2025 | 09:00 WIB
Malam Hari Menguak Pesona: Tren Wisata Nokturnal yang Menyihir Dunia

Nokturisme: Tren Wisata Malam yang Sedang Naik Daun

Belakangan ini, para traveler ramai membicarakan nokturisme. Tapi sebenarnya, apa sih nokturisme itu? Intinya, ini adalah kegiatan wisata yang dilakukan saat malam tiba. Dunia yang gelap justru menawarkan pengalaman menjelajah yang sama sekali berbeda.

Menurut data dari National Geographic, cukup mengejutkan hampir 62% responden di 33 negara ternyata mempertimbangkan untuk berlibur di malam hari. Aktivitasnya beragam banget, mulai dari mengamati bintang, safari, sampai sekadar jalan-jalan keliling kota setelah gelap.

Di sisi lain, mungkin alasan di balik tren ini lebih sederhana. Minat orang untuk jalan-jalan memang terus meningkat, tapi rekomendasi destinasi baru yang menarik nggak selalu banyak. Nah, nokturisme inilah yang bisa memberikan perspektif segar terhadap tempat-tempat wisata yang sudah biasa kita kunjungi. Intinya, kita diajak untuk menemukan kembali dunia yang ternyata berubah total begitu matahari terbenam.

Nah, kalau penasaran, berikut beberapa petualangan nokturnal yang layak dicoba!

Safari Malam: Dunia Satwa yang Berbeda

Mengamati satwa liar di habitat aslinya nggak lagi harus dilakukan siang hari. Nokturisme menawarkan suasana yang lebih menantang. Faktanya, 70% satwa di Safari Afrika ternyata aktif di malam hari. Jadi, kalau mau lihat keragaman satwa yang lebih lengkap, malam hari justru moment yang tepat.

Beberapa tempat wisata bahkan menyediakan penginapan khusus untuk mengamati satwa-satwa eksotis ini. Penginapan di hutan hujan seperti di Madagaskar atau Kosta Rika juga mulai banyak yang nawarin wisata jalan-jalan satwa liar malam hari.

Sementara itu, penginapan di Amazon macam Sacha Lodge di Ekuador punya paket unik: wisata kano buat ngelihat mata caiman yang bersinar kalau kena cahaya obor. Seram tapi menarik, ya?

Di Eropa, ada yang lebih ekstrem lagi. Spesialis satwa liar Travelling Naturalist pakai tempat persembunyian semalam buat ngelihat beruang cokelat setiap bulan Juni. Amazing Nature Scandinavia bahkan bikin perkemahan di 'area kawanan serigala' khusus buat dengerin lolongan mereka. Nggak untuk yang penakut sih.

Berburu Cahaya Utara

Aurora Borealis kayaknya jadi impian banyak traveler. Permintaannya melonjak dalam dua tahun terakhir. Salah satu alasannya, tahun 2024 dan 2025 adalah puncak aktivitas matahari yang bikin aurora lebih sering muncul dan lebih kuat.

Tapi jangan salah, nemuin aurora nggak semudah yang dibayangin. Butuh kombinasi cuaca bagus dan sedikit keberuntungan. Banyak yang udah jauh-jauh ke sana tapi pulang dengan tangan hampa.

Tidur di Bawah Bintang

Hotel bintang lima di gedung tinggi udah dianggap biasa. Kini, yang lagi tren justru penginapan dengan atap langit penuh bintang.

Chris McIntyre, pendiri Expert Africa, bilang bahwa tidur di tempat tidur safari bawah bintang, dengan langit epik dan suara hyena di kejauhan, itu kombinasi sempurna antara ketenangan dan kegembiraan. "Pengalaman itu memperdalam hubungan Anda dengan alam liar," katanya.

Basecamp Samburu di Kenya baru aja meluncurkan empat tempat tidur bintang deluxe yang ditinggikan di bawah kanopi masing-masing punya bak mandi air panas sendiri. Maladewa pun ikut-ikutan mengadopsi konsep serupa.

Para tamu di Milaidhoo di Atol Baa bisa pesan pengalaman Tidur di Bawah Bintang: tempat tidur di atas gundukan pasir pribadi yang cuma bisa diakses pake perahu. Eksklusif banget!

Tahun 2021, badan pariwisata Swiss juga nggak mau ketinggalan. Mereka luncurin konsep Million Stars Hotel yang bisa dipesan lewat platform berkemah Nomady. Proyek ini nawarin sekitar 50 penginapan unik dengan pemandangan langit malam spektakuler mulai dari kubah geodesik sampe kasur di atas gerobak jerami petani.

Mengamati Bintang di Langit Gelap

Polusi cahaya dari gemerlap lampu kota dan gedung pencakar langit udah nutupi keindahan bintang. Makanya, sekarang banyak traveler yang sengaja "berburu" bintang ke tempat-tempat yang masih punya langit gelap.

Robert Massey, wakil direktur eksekutif Royal Astronomical Society, ngasih saran destinasi buat ngamatin bintang. Salah satunya observatorium COAA di Algarve, di mana astronom amatir bisa pake teleskop. Atau lanskap bebas polusi cahaya di Chili, Namibia, dan pedalaman Australia.

"Semua tempat itu punya langit yang sangat cerah. Makanya observatorium-observatorium besar banyak dibangun di sana," jelasnya.

Jalan-Jalan Malam di Kota

Pasar makanan sering jadi pusat aktivitas malam, terutama di Asia Timur dan Amerika Latin. Selain bisa kulineran, kita juga bisa ngamatin kehidupan lokal yang berbeda.

Inside Asia nawarin wisata bertema kuliner, termasuk kunjungan ke Pasar Gwangjang di Seoul setelah matahari terbenam, plus Pasar Malam Yansan di Taipei. Sementara Intrepid punya tur buat nikmatin karnaval kios makanan malam hari di alun-alun Jemaa el-Fnaa, Marrakesh. Ramai, semrawut, tapi justru di situlah serunya.

Penyelaman Malam dan Keajaiban Bioluminesensi

Banyak penyelam yang bilang kalau penyelaman malam itu pengalaman yang damai dan meditatif. Di malam hari, plankton bakal memancarkan cahaya, ngebikin efek kayak bintang yang berkilauan di dalam air.

Gambaran pantai yang berkilauan cahaya biru neon udah narik banyak traveler ke Pulau Mudhdhoo di Maladewa dikenal sebagai 'Laut Bintang'. Atau ke Teluk Mosquito di pesisir Vieques, Puerto Riko, yang menurut Guinness World Records adalah rumah bagi bioluminesensi paling terang di dunia.

Jadi, dari safari malam sampai tidur di bawah bintang, mana nih yang paling bikin penasaran?

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar