Ringgit Malaysia Jadi Mata Uang Terkuat di Asia 2024, Berpotensi Tembus 4,1 per Dolar AS

- Kamis, 13 November 2025 | 10:54 WIB
Ringgit Malaysia Jadi Mata Uang Terkuat di Asia 2024, Berpotensi Tembus 4,1 per Dolar AS

Ringgit Malaysia: Mata Uang Terkuat di Asia Tahun Ini

Ringgit Malaysia tercatat sebagai mata uang dengan performa terbaik di kawasan Asia pada tahun ini. Nilai tukarnya terus merangkak naik dan mendekati posisi tertinggi dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

Penguatan Ringgit ini didorong oleh dua faktor utama: membaiknya fundamental ekonomi domestik dan meredanya ketegangan perdagangan internasional. Kondisi ini mendorong minat investor asing untuk kembali mengalirkan dana ke instrumen utang atau obligasi pemerintah Malaysia.

Berdasarkan analisis dari Bloomberg, para ahli memproyeksikan Ringgit berpotensi menguat melampaui level 4,1 terhadap Dolar AS. Bahkan, mata uang ini berpeluang mencapai posisi tertingginya sejak Mei 2021. Proyeksi ini seiring dengan kebijakan bank sentral yang mempertahankan suku bunga dan tren perbaikan ekonomi yang konsisten, seperti yang diungkapkan oleh BNY dan Malayan Banking Bhd.

Dukungan nyata terhadap Ringgit datang dari pembelian obligasi Malaysia oleh investor asing, yang nilainya telah mencapai hampir 4 miliar dolar AS sepanjang tahun ini. Aliran modal asing ini menjadi penopang signifikan bagi nilai tukar Ringgit.

Ekonomi Malaysia, yang bertumpu pada sektor ekspor, diuntungkan oleh pemulihan permintaan global. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga yang mampu melampaui perkiraan banyak pihak.

Sentimen positif semakin menguat seiring membaiknya hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang merupakan dua mitra ekspor terbesar Malaysia. Pencairan ketegangan ini memicu kembalinya minat investor asing terhadap aset-aset finansial di Malaysia.

Tim strategi Maybank yang dipimpin Saktiandi Supaat menyatakan dalam sebuah laporan, "Sentimen terhadap Ringgit masih tetap positif." Mereka menambahkan bahwa momentum penguatan telah terbentuk dan masih terdapat "cashwall" atau simpanan valuta asing korporasi dalam jumlah besar yang berpotensi dikonversi.

Pada perdagangan Kamis pagi, Ringgit tercatat sedikit berubah pada level 4,13 per dolar AS. Meski demikian, sejumlah indikator teknis mengisyaratkan bahwa rally Ringgit mungkin akan mengalami jeda dalam waktu dekat.

Para ahli strategi memperkirakan akan terjadi pelemahan sementara, dengan Ringgit berpotensi melemah hingga level 4,18 per dolar AS pada akhir tahun, sebelum kembali melanjutkan tren penguatannya pada tahun 2026, berdasarkan estimasi median dalam survei Bloomberg.

Bank sentral Malaysia menunjukkan sinyal kepercayaan diri dengan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan awal bulan ini, meskipun terdapat tekanan dari kenaikan suku bunga AS. Sepanjang tahun ini, Ringgit telah menguat lebih dari 8 persen.

Wee Khoon Chong, Senior Strategist di BNY di Hong Kong, menyatakan bahwa kinerja positif Ringgit "dapat berlanjut". Menurutnya, valuasi mata uang Malaysia masih menarik, bahkan setelah mengalami penguatan sepanjang tahun. "Terutama jika mengingat betapa lemahnya Ringgit dan tingginya tekanan jual pada periode 2021 hingga 2023," pungkasnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar