Wall Street Melonjak, Saham AI dan Teknologi Pimpin Penguatan
Bursa saham Amerika Serikat, atau yang dikenal sebagai Wall Street, mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Senin. Kinerja positif ini dipelopori oleh kenaikan saham-saham perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) seperti Nvidia dan Palantir. Penguatan pasar ini terjadi bersamaan dengan upaya pemerintah AS untuk mengakhiri penutupan pemerintahan federal yang berkepanjangan.
Indeks S&P 500 berhasil naik 1,54 persen dan mengakhiri sesi di level 6.832,43. Sementara itu, indeks Nasdaq melonjak lebih tinggi, yaitu 2,27 persen, menjadi 23.527,17, yang sekaligus menjadi kenaikan harian terbesar sejak akhir Mei. Dow Jones Industrial Average juga ikut menguat dengan kenaikan 0,81 persen ke posisi 47.368,63.
Dampak Berakhirnya Government Shutdown terhadap Pasar
Krisis penutupan pemerintahan federal AS, yang merupakan yang terpanjang dalam sejarah, menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Hal ini ditandai dengan tercapainya kompromi untuk memulihkan pendanaan federal yang telah melewati tahap awal pemungutan suara di Senat. Meski belum ada kepastian waktu untuk persetujuan akhir dari Kongres, perkembangan ini meredakan ketegangan di kalangan investor.
Seorang Chief Investment Officer menyatakan bahwa penutupan pemerintahan yang berlarut-larut telah memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap perekonomian, termasuk potensi gangguan pada layanan penerbangan yang efeknya bisa meluas.
Saham Teknologi dan AI Rebound
Saham-saham di sektor teknologi bangkit setelah mengalami tekanan yang cukup dalam pada pekan sebelumnya. Nvidia, perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia, mengalami kenaikan saham sebesar 5,8 persen. Disusul oleh saham Palantir yang naik 8,8 persen dan Tesla yang menguat 3,7 persen.
Analis pasar menilai kenaikan ini sebagai aksi rebound setelah kondisi pasar sempat jenuh jual. Minat untuk membeli di saat harga turun (buy the dip) kembali terlihat kuat, khususnya pada sektor teknologi dan AI. Laporan keuangan dari banyak perusahaan di sektor ini juga dinilai masih menunjukkan fundamental yang kuat.
Artikel Terkait
Analis Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$116 per Barel Pekan Depan
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan