Adrian Ash, Direktur Riset BullionVault, menyatakan perubahan kebijakan pajak di konsumen emas terbesar dunia ini akan mempengaruhi sentimen pasar global. Meskipun demikian, pemulihan harga di pasar London setelah melemah di sesi Asia menunjukkan kekuatan sentimen bullish yang masih bertahan.
Analis Citigroup Inc. memprediksi seluruh industri emas China akan menyesuaikan harga jual untuk mengkompensasi biaya tambahan akibat perubahan pajak. Sementara Dan Ghali dari TD Securities menyatakan dampak kebijakan terhadap harga global mungkin belum terasa dalam jangka pendek, mengingat permintaan grosir emas China telah turun 28% dalam tiga bulan terakhir.
Prospek Harga Emas ke Depan
Kebijakan baru China dinilai membuat harga emas sulit mempertahankan level di atas USD 4.000. Pertanyaan kunci adalah apakah permintaan dari sektor resmi seperti bank sentral mampu mengimbangi penurunan permintaan konsumen China.
Meski harga emas sempat mencapai rekor tertinggi pada Oktober karena lonjakan pembelian ritel, kemudian terjadi koreksi tajam. Kepemilikan emas dalam produk ETF juga tercatat turun selama dua minggu berturut-turut. Namun secara year-to-date, harga emas masih menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan lebih dari 50%, didorong permintaan bank sentral dan statusnya sebagai safe haven asset.
Pada penutupan perdagangan, harga emas spot tercatat di USD 4.001,61 per ounce, sementara harga logam mulia lainnya seperti perak dan platinum mengalami penurunan.
Artikel Terkait
IHSG Menguat Tipis, PEGE dan HDFA Melonjak di Atas 34%
Bakrie Sumatera Plantations Catat Penjualan Rp2,56 Triliun dan Lonjakan Laba Operasi 86% pada 2025
Latinusa Waspadai Tekanan Impor Tinplate, Bidik Pendapatan USD160 Juta pada 2026
Indocement Akhiri Program Buyback Lebih Cepat, Target 1,88% Saham Tercapai