Kebijakan Pajak Baru China Melemahkan Harga Emas Global, Ancam Level USD 4.000?

- Selasa, 04 November 2025 | 10:06 WIB
Kebijakan Pajak Baru China Melemahkan Harga Emas Global, Ancam Level USD 4.000?

Dampak Kebijakan Pajak Baru China Terhadap Harga Emas Global

Harga emas global bertahan di level sekitar USD 4.000 per ounce menyusul keputusan Pemerintah China menghapus insentif pajak bagi para pengecer emas. Perubahan kebijakan fiskal di pasar logam mulia terbesar dunia ini berpotensi menekan permintaan emas fisik secara signifikan.

Perubahan Aturan PPN dan Dampaknya pada Industri

Pada perdagangan spot, harga emas menunjukkan stabilitas di pasar AS setelah sempat terkoreksi. Pemerintah China secara resmi mencabut fasilitas pemotongan penuh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk penjualan emas yang bersumber dari Bursa Emas Shanghai (SGE) dan Bursa Berjangka Shanghai (SFE). Kebijakan ini langsung berdampak pada pelemahan saham perusahaan perhiasan emas di China.

Berdasarkan regulasi baru tersebut, produsen emas non-investasi seperti perhiasan dan komponen elektronik hanya dapat memotong PPN sebesar 6%, turun drastis dari sebelumnya 13%. Aturan serupa juga berlaku untuk perusahaan non-anggota bursa yang memasarkan produk investasi emas batangan.

Reaksi Analis Pasar Terhadap Kebijakan China

Adrian Ash, Direktur Riset BullionVault, menyatakan perubahan kebijakan pajak di konsumen emas terbesar dunia ini akan mempengaruhi sentimen pasar global. Meskipun demikian, pemulihan harga di pasar London setelah melemah di sesi Asia menunjukkan kekuatan sentimen bullish yang masih bertahan.

Analis Citigroup Inc. memprediksi seluruh industri emas China akan menyesuaikan harga jual untuk mengkompensasi biaya tambahan akibat perubahan pajak. Sementara Dan Ghali dari TD Securities menyatakan dampak kebijakan terhadap harga global mungkin belum terasa dalam jangka pendek, mengingat permintaan grosir emas China telah turun 28% dalam tiga bulan terakhir.

Prospek Harga Emas ke Depan

Kebijakan baru China dinilai membuat harga emas sulit mempertahankan level di atas USD 4.000. Pertanyaan kunci adalah apakah permintaan dari sektor resmi seperti bank sentral mampu mengimbangi penurunan permintaan konsumen China.

Meski harga emas sempat mencapai rekor tertinggi pada Oktober karena lonjakan pembelian ritel, kemudian terjadi koreksi tajam. Kepemilikan emas dalam produk ETF juga tercatat turun selama dua minggu berturut-turut. Namun secara year-to-date, harga emas masih menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan lebih dari 50%, didorong permintaan bank sentral dan statusnya sebagai safe haven asset.

Pada penutupan perdagangan, harga emas spot tercatat di USD 4.001,61 per ounce, sementara harga logam mulia lainnya seperti perak dan platinum mengalami penurunan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar