MURIANETWORK.COM - Proyek Future Combat Air System (FCAS), program jet tempur generasi keenam senilai €100 miliar yang digagas bersama Prancis, Jerman, dan Spanyol, menghadapi tantangan restrukturisasi meski ditegaskan tidak akan dibatalkan. CEO Airbus Defence and Space, Michael Schoellhorn, mengakui adanya perselisihan industri dengan mitra Prancis, Dassault Aviation, terutama terkait kepemimpinan pengembangan pesawat berawak. Ketegangan ini memicu spekulasi luas tentang masa depan proyek strategis tersebut di tengah perubahan lanskap geopolitik dan kebutuhan pertahanan Eropa yang kian mendesak.
Kepastian di Tengah Ketidakpastian
Di balik laporan-laporan yang menyebut proyek ini di ujung tanduk, pimpinan salah satu kontraktor utamanya justru menyuarakan keyakinan. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Michael Schoellhorn secara tegas membantah isu tentang kematian FCAS. Namun, dia dengan jujur mengakui bahwa jalan di depan tidak akan mulus.
"FCAS akan tetap ada," tegas Schoellhorn. "Tetapi beberapa bagian proyek memang harus direstrukturisasi."
Pengakuan tersebut bukan tanpa alasan. Schoellhorn mengungkapkan bahwa friksi dengan Dassault Aviation memang terjadi, sebuah dinamika yang kerap mewarnai kolaborasi industri pertahanan berskala besar.
"Ya, ada persoalan terkait pesawat tempur berawak antara dua perusahaan. Salah satunya perusahaan saya," ujarnya. "Risiko proyek Eropa berskala besar seperti ini bukan hanya soal kemauan politik, tapi juga keselarasan industri para pemain yang terlibat."
Akar Perselisihan yang Mengakar
Perselisihan itu bukan hal sepele. Sejak diluncurkan dengan fanfare pada 2017, FCAS dirancang sebagai sebuah sistem pertempuran udara masa depan yang lengkap, dengan jet tempur generasi keenam sebagai intinya. Dassault, dengan pengalaman panjang membangun pesawat tempur seperti Rafale, secara natural memimpin pilar pengembangan pesawat berawak. Sementara itu, Airbus Defence and Space dari Jerman mengelola komponen sistem lainnya, seperti drone dan combat cloud.
Namun, perbedaan visi segera muncul. Laporan-laporan menyebutkan perselisihan mencakup hal-hal mendasar, mulai dari spesifikasi teknis, pembagian kerja pengembangan, hingga pemilihan pemasok sub-sistem. Inti ketegangannya adalah keinginan Dassault untuk mempertahankan kendali penuh atas aspek pesawat tempur, yang dianggap sebagai mahkota dari seluruh program.
Schoellhorn sendiri melihat restrukturisasi sebagai sebuah keniscayaan, terutama karena konteks dunia yang telah berubah drastis sejak proyek ini dirumuskan.
"Kita hidup di dunia yang sepenuhnya berbeda. Kecepatan menjadi kunci," jelasnya. "Era ketika sesuatu dirancang sangat detail dengan daftar persyaratan panjang dan baru terwujud 15–20 tahun kemudian sudah berlalu. Perubahan berlangsung begitu cepat sehingga cara kita mengembangkan sistem juga harus berubah. Restrukturisasi FCAS memang tak terelakkan."
Sinyal Berbeda dari Pemerintah
Di tingkat politik, sinyal yang ditangkap justru lebih suram. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, baru-baru ini menyuarakan keraguan yang signifikan. Dia menyoroti perbedaan kebutuhan operasional antara Angkatan Udara Prancis dan Bundeswehr Jerman sebagai titik masalah utama.
Kebutuhan Prancis akan pesawat yang mampu membawa senjata nuklir generasi berikutnya, misalnya, tidak relevan bagi Jerman. Perbedaan mendasar dalam doktrin pertahanan ini membuat desain tunggal menjadi sangat rumit.
Artikel Terkait
Gibran Soroti Pentingnya Modernisasi Alat untuk Dukung Petani Muda di Kupang
Anjloknya KA Bangunkarta di Brebes Kacaukan Lalu Lintas, 27 Perjalanan KA Dibatalkan dan Terhenti
Hakim Pertimbangkan Permohonan Tahanan Rumah untuk Nadiem Makarim
Wagub Kepri Perintahkan Rehabilitasi Total Waduk Sei Jago yang Rusak Parah