Strategi China dan Dampaknya pada Harga Ekspor
Ekonom Universitas Indonesia, Mohammad Dian Revindo, menjelaskan akar murahnya produk China. “Tiongkok menahan apresiasi mata uangnya dan melakukan praktik dumping, sehingga harga ekspor mereka tetap rendah,” ungkapnya. Dia menilai, Indonesia perlu memperkuat kebijakan industri, riset, dan inovasi agar mampu bersaing dengan produk impor.
Dampak Ganda Investasi China: Transfer Teknologi vs. Defisit Perdagangan
Wakil Ketua Komite Tetap KADIN, Yen Yen Kuswati, menyoroti sisi ganda kerja sama dengan China. Di satu sisi, ada peningkatan investasi dan transfer teknologi, namun di sisi lain membawa risiko. “Persaingan harga menekan pelaku usaha lokal dan berpotensi memperlebar defisit perdagangan,” jelasnya.
Data Perdagangan dan Harapan dari Program Hilirisasi
Pejabat Kementerian Perindustrian, Laode Ikrar Hastomi, menegaskan pentingnya memperkuat sektor manufaktur nasional. Dia mengungkap data perdagangan 2024: ekspor Indonesia ke China mencapai US$62,44 miliar, sedangkan impor mencapai US$72,73 miliar. “Meski defisit, program hilirisasi diharapkan mampu memperbaiki neraca perdagangan,” ujarnya.
Komitmen Nasionalisme dari Generasi Muda Tionghoa Indonesia
Perwakilan IPTI, Septeven Hwang, menegaskan komitmen generasi muda Tionghoa Indonesia. “Kami etnis Tionghoa, tapi nasionalisme kami adalah Indonesia. Kami berada di sisi tanah air yang kami cintai,” tegasnya, menutup seminar yang menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi dalam hubungan bilateral ini.
Artikel Terkait
Kemenhub Wajibkan Sopir Cadangan dan Aturan Istirahat Ketat untuk Antisipasi Kecelakaan Arus Balik
PT Merdeka Gold Ajukan IPO di Hong Kong di Tengah Peningkatan Produksi dan Kerugian Membengkak
Harga CPO Melemah Tipis di Tengah Pergerakan Minyak Nabati yang Beragam
Harga Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Turun Rp80.000 per Gram