Pesawat Baru Garuda Tertunda hingga 2032 & Uang Tunai di Stasiun Whoosh Anjlok 21%

- Sabtu, 01 November 2025 | 04:36 WIB
Pesawat Baru Garuda Tertunda hingga 2032 & Uang Tunai di Stasiun Whoosh Anjlok 21%
Berita Terkini: Pesawat Garuda & Penurunan Uang Tunai di Stasiun Whoosh

Berita Bisnis Terkini: Pesawat Garuda dan Transformasi Digital di Stasiun Whoosh

Informasi terbaru mengenai penundaan pengiriman pesawat baru untuk Garuda Indonesia hingga tahun 2032 menjadi berita utama. Selain itu, laporan tentang penurunan drastis peredaran uang tunai di Stasiun Whoosh turut menyita perhatian publik. Simak rangkuman lengkapnya di bawah ini.

Pesanan Pesawat Baru Garuda Indonesia Baru Tiba Paling Cepat 2032

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia mengungkap fakta terbaru bahwa pengiriman pesawat baru untuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, termasuk dari pabrikan Boeing, tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat. Menurut Danantara, pengiriman pesawat baru Garuda Indonesia paling cepat akan dilakukan tujuh tahun lagi atau pada 2032.

Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menjelaskan bahwa terdapat tantangan signifikan dalam proses pengiriman armada baru. Hal ini berlaku baik untuk pesanan dari Boeing, yang juga terkait dengan negosiasi tarif impor resiprokal AS, maupun dari Airbus.

Rohan menyatakan, "Problemnya justru kita mau beli, mau investasi pesawat baru, delivery (pengiriman) pertamanya 7 tahun dari sekarang paling cepat. Beli pesawat lagi antre."

Ia menambahkan, "Iya (pembelian termasuk kontrak dengan AS), kan sudah dikontrak waktu restrukturisasi, kita harus beli dari Boeing. Tapi either Boeing atau Airbus dua-duanya 7 tahunan."

Rohan juga mengungkapkan bahwa saat ini Garuda Indonesia masih fokus pada upaya penyelesaian pembayaran utang kepada lessor, yang sebelumnya dibantu melalui suntikan modal dari Kementerian Keuangan dan kini dialihkan ke Danantara.

Perputaran Uang Tunai di Stasiun Whoosh Anjlok 21% Berkat QRIS Tap

Di berita lainnya, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) melaporkan terjadinya penurunan yang sangat tajam dalam peredaran uang tunai di stasiun-stasiun. Penurunan ini terjadi setelah penerapan sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) berbasis Near Field Communication (NFC) atau yang dikenal dengan QRIS Tap.

Direktur Utama PT KCI, Asdo Artriviyanto, mengungkapkan bahwa sejak Maret 2025, persentase perputaran uang tunai di stasiun telah turun drastis dari 57 persen menjadi hanya 21 persen.

“Sejak diberlakukan QRIS Tap, tingkat perputaran uang tunai di stasiun yang tadinya 57 persen sekarang hanya tinggal 21 persen. Jadi ini sangat membantu sekali,” ujar Asdo dalam acara FEKDI x IFSE Expo 2025 di JCC Senayan, Jakarta Selatan.

Meski demikian, Asdo mengakui bahwa penerapan sistem pembayaran digital ini masih menghadapi tantangan tersendiri. Hal ini terutama terkait dengan beragamnya lapisan pengguna jasa transportasi publik yang memiliki tingkat literasi dan adaptasi digital yang berbeda-beda.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar