ERAA 2025: Saham Rp434 Bakal Meledak ke Rp600? Ini Strategi Rahasianya!

- Rabu, 29 Oktober 2025 | 23:50 WIB
ERAA 2025: Saham Rp434 Bakal Meledak ke Rp600? Ini Strategi Rahasianya!
Prospek Saham ERAA (Erajaya) 2025: Ekspansi ke F&B & Kendaraan Listrik

Prospek Saham ERAA (Erajaya) 2025: Ekspansi ke F&B & Kendaraan Listrik

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) kini memperluas portofolio bisnisnya dengan melakukan ekspansi ke sektor makanan dan minuman (F&B) serta kendaraan listrik (EV). Langkah strategis ini dilakukan untuk melengkapi bisnis utamanya di sektor perangkat genggam.

Pada akhir Oktober 2025, perusahaan telah membuka dua gerai F&B baru. Gerai tersebut adalah concept store teh Chagee pertama yang berlokasi di Bekasi dan gerai Paris Baguette di Depok, Jawa Barat.

Rekomendasi Analis: Beli Saham ERAA

Menanggapi ekspansi ini, analis dari UOB Kay Hian, Willinoy Sitorus, menilai prospek Erajaya untuk paruh kedua tahun 2025 tetap solid. UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham ERAA dengan target harga yang ditetapkan sebesar Rp600 per saham.

"Kami mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham ERAA dengan target harga Rp600, berdasarkan rasio PE 7,7 kali, sejalan dengan rata-rata historis periode 2020–2025," jelas Willinoy.

Diversifikasi untuk Margin Lebih Tinggi

Rekomendasi positif ini didasari oleh proyeksi pertumbuhan penjualan yang solid dan ekspansi vertikal perseroan sepanjang 2025. Willinoy menambahkan bahwa diversifikasi ke sektor F&B merupakan langkah strategis Erajaya untuk mendapatkan margin yang lebih tinggi di luar bisnis smartphone.

Lini Food and Nourishment, yang mencakup Chagee, Paris Baguette, dan merek F&B lainnya, menunjukkan perkembangan positif dengan pembukaan gerai baru yang sesuai jadwal.

"Eksekusi ERAA menunjukkan bahwa peta jalan ekspansi berjalan dengan baik, dan manajemen tetap konsisten dalam pandangannya untuk mempertahankan pertumbuhan dua digit di luar bisnis smartphone," tuturnya.

Hingga penutupan perdagangan Rabu, 29 Oktober 2025, saham ERAA tercatat menguat 2,36 persen ke level Rp434 per saham.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar