Harga emas menguat tipis pada perdagangan Jumat, tetapi tetap mencatat penurunan mingguan terbesar dalam enam pekan terakhir. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong lonjakan harga energi, memicu kekhawatiran inflasi, dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga AS.
Harga emas spot naik 1,02 persen menjadi USD4.017,11 per troy ounce. Namun, logam mulia ini sempat menyentuh level terendah sejak 30 Juni pada awal sesi dan tercatat melemah 2,648 persen sepanjang pekan.
Penguatan dolar AS untuk hari kedua berturut-turut turut menekan harga emas. Dolar yang perkasa membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri.
"Faktor utama yang mendorong aksi jual emas adalah penguatan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global, yang telah mendorong kenaikan suku bunga di berbagai negara," ujar Presiden World Markets EverBank Chris Gaffney.
Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah AS meningkatkan serangan udara terhadap Iran dengan menargetkan sejumlah jembatan dan bandara. Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan ke pangkalan militer AS di berbagai wilayah. Akibatnya, harga minyak Brent melonjak sekitar 16 persen sepanjang pekan.
Sejak perang yang didukung AS terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, harga emas telah turun sekitar 25 persen. Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi bahwa lonjakan inflasi akibat perang dapat membuat suku bunga bertahan di level tinggi lebih lama. Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif karena mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil.
"Data ekonomi terbaru telah menurunkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC berikutnya. Namun, suku bunga global terus meningkat dan kenaikan harga minyak baru-baru ini dapat mendorong Federal Reserve mengambil sikap yang lebih hawkish terhadap kebijakan suku bunga AS," kata Gaffney.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September mencapai sekitar 58 persen. Pada Kamis, Wakil Ketua Federal Reserve Philip Jefferson mengatakan dirinya terbuka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu dekat.
Sementara itu, Goldman Sachs menilai porsi kepemilikan emas dalam portofolio investor swasta masih relatif rendah. Menurut bank investasi tersebut, perkembangan geopolitik terbaru, termasuk konflik Iran dan meningkatnya ketegangan global, berpotensi mempercepat diversifikasi investasi ke emas, tidak hanya oleh bank sentral tetapi juga oleh investor swasta.
Artikel Terkait
BSI Dorong Mahasiswa Baru UNPAD Kelola Keuangan dan Bangun Aset Sejak Dini
Cadangan Emas China Tembus 2.366 Ton, Pembelian Terbesar sejak 2023
Harga Emas Dunia Tertekan Dolar, tapi Cetak Kenaikan Bulanan Pertama dalam Lima Bulan
Harga Emas Menguat Hampir 1 Persen, Dolar Melemah dan Inflasi AS Melandai