Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Melonjak 16 Persen dalam Sepekan

- Minggu, 19 Juli 2026 | 11:35 WIB
Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Melonjak 16 Persen dalam Sepekan

Harga minyak dunia melonjak tajam pada Jumat (17/7/2026) dan mencatat kenaikan mingguan sekitar 16 persen, dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan global. Minyak mentah Brent ditutup naik 4,59 persen ke USD88,10 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,48 persen menjadi USD82,49 per barel level tertinggi sejak pertengahan Juni.

Secara mingguan, Brent membukukan kenaikan sekitar 16 persen untuk pekan ketiga berturut-turut, sedangkan WTI juga naik sekitar 16 persen dan mencatat penguatan mingguan kedua secara beruntun.

Lonjakan harga terjadi seiring meningkatnya intensitas serangan antara kedua negara. Pada Jumat, AS melancarkan serangan ke sejumlah jembatan dan bandara di Iran, sementara Teheran menyerang fasilitas listrik dan desalinasi di Kuwait. Iran juga mengklaim melancarkan serangan terhadap fasilitas militer AS di Timur Tengah, termasuk serangan langsung pertamanya ke Suriah, setelah enam malam berturut-turut serangan AS ke fasilitas militer Iran.

Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow mengatakan pasar merespons meningkatnya konflik yang memuncak dalam sepekan terakhir melalui serangan harian terhadap infrastruktur Iran dan aksi balasan Teheran terhadap infrastruktur negara-negara tetangganya. Menurutnya, apabila semakin banyak kapal tanker menjadi sasaran serangan dan mengalami kerusakan, harga minyak berpotensi terus naik karena pemilik kapal diperkirakan enggan memasuki Teluk Persia.

Konflik yang kembali memanas juga mengganggu arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Sebelum perang pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut. Iran juga disebut mendesak kelompok Houthi untuk menutup jalur Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.

Analis PVM Oil Associates Tamas Varga mengatakan potensi penutupan Laut Merah menjadi ancaman serius mengingat sebagian besar ekspor minyak Arab Saudi kini dialihkan ke Pelabuhan Yanbu melalui jaringan East-West Pipeline untuk menghindari Selat Hormuz. Sejak perang dimulai, Arab Saudi telah mengalihkan lebih dari 70 persen ekspor minyak hariannya ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Volume pengiriman dari pelabuhan tersebut dalam beberapa pekan terakhir rata-rata mencapai 4 juta barel per hari, meningkat dari sekitar 973.000 barel per hari pada periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan berhasil menggagalkan serangan rudal Iran pada Jumat dini hari. Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Qatar melaporkan seorang anak terluka akibat serpihan dari operasi pencegatan rudal.

Di kawasan lain, militer Ukraina mengklaim telah menyerang sebuah kilang minyak Rusia di wilayah Yaroslavl pada Kamis (17/7/2026).

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags