Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki ruang penguatan setelah ditutup di level 6.175 pada perdagangan Jumat (17/7). Peluang reli terbuka lebar, terutama jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus mereda.
Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, mengatakan peluang IHSG menyentuh 7.000, bahkan 8.000 di bulan Juli ini sangat besar. "Melihat posisi penutupan Jumat kemarin di level 6.175, saya rasa peluang untuk menyentuh 7.000, apalagi 8.000 di bulan Juli ini probabilitasnya sangat besar, asalkan Selat Hormuz aksesnya terbuka lagi," jelas Gunarto, Sabtu (18/7).
Menurut Gunarto, terbukanya kembali akses Selat Hormuz akan mendorong penurunan harga minyak dunia. Hal itu diyakini dapat meningkatkan minat investor global untuk kembali masuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. "Aset investasi dari global bakal ke emerging markets lagi seperti Indonesia. Apalagi kita ada euforia dari penetapan rating oleh S&P," ucapnya.
Gunarto juga menyebut indikator High Shareholding Concentration (HSC) oleh Bursa Efek Indonesia yang menambahkan price impact ratio (PIR) mendapat respons positif. "Sejauh ini respons pasar dan para analis cukup positif karena kebijakan ini dianggap memberikan logika pengawasan yang sangat masuk akal," kata Gunarto.
Dia menjelaskan, indikator baru PIR dinilai lebih efektif mendeteksi saham yang terlihat likuid, tetapi sebenarnya memiliki kedalaman pasar yang tipis serta kepemilikan yang terkonsentrasi. Dampak penerapan metodologi baru langsung terlihat dengan bertambahnya jumlah emiten yang masuk daftar HSC. "Ada 37 emiten baru yang terseret masuk ke daftar High Shareholding Concentration (HSC), menggenapkan totalnya menjadi 51 emiten," jelasnya.
Gunarto menilai indikator PIR HSC menjadi peringatan bagi investor untuk lebih berhati-hati dalam menilai likuiditas saham. "Pasar merespons ini sebagai warning keras agar lebih jeli menilai likuiditas fundamental suatu saham agar tidak terjebak situasi mudah beli tapi sulit jual," tuturnya.
Secara teknikal, IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan sepanjang Juli 2026. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang menguji level 6.666 sebagai target realistis (wave C), bahkan menuju 7.320 sebagai target optimistis (wave 3).
Nafan juga menilai perubahan metodologi HSC seharusnya dipandang sebagai upaya memperkuat integritas pasar modal Indonesia, bukan sebagai sinyal memburuknya kualitas pasar. "Untuk penerapan indikator price impact ratio lebih tepat dipandang sebagai peningkatan kualitas pengawasan dan transparansi pasar, bukan semata-mata memburuknya kualitas pasar modal Indonesia," ujar Nafan.
Status HSC, kata Nafan, menjadi pertimbangan tambahan bagi investor institusi yang memiliki standar manajemen risiko dan persyaratan likuiditas tertentu. "Apabila likuiditas dinilai terbatas, mereka cenderung mengurangi eksposur atau meminta liquidity premium yang lebih tinggi," kata Nafan.
Artikel Terkait
IHSG Menguat 4,24 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp 10.749 Triliun
IHSG Menguat 4,24% dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.749 Triliun
AS dan Iran Saling Serang untuk Malam Ketujuh, Ketegangan Meluas ke Negara Teluk
IHSG Catat Penguatan Signifikan Sepanjang Pekan, Saham JELI Pimpin Top Losers