Seniman Indonesia Butet Kartaredjasa bersama istrinya mendapat undangan langsung dari Paus Leo XIV, pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, di Vatikan. Dalam pertemuan itu, Butet bahkan mencium cincin kepausan di tangan Paus Leo XIV.
Uniknya, Butet dan istri datang menggunakan pakaian adat Jawa lengkap. Mereka menyerahkan 14 lukisan kaca yang kini dipajang di Museum Vatikan. Butet mengungkapkan, kesempatan emas dan bersejarah itu didapatkan melalui perjalanan yang tidak mudah.
"Iya, tidak semua orang bisa dan itu penuh kesengsaraan. Jadi, itu seperti saya itu mengalami peristiwa seperti yang saya lukiskan itu, Jalan Salib itu, itu yang saya alami," kata Butet dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (15/07/2026).
Dengan keinginan menunjukkan budayanya, Butet dan istri yang berbaju adat Jawa harus berjalan di bawah terik matahari Eropa yang sedang tinggi-tingginya. Bahkan, Butet yang saat ini menggunakan tongkat harus berjalan tidak kurang dari 2 kilometer.
"Jadi, saya itu menuju ke lokasi itu dari tempat parkir itu mesti berjalan kaki kira-kira 2 kilometer. Pakai tongkat, pakaian Jawa, blangkon, surjan, dan istri saya pakai kebaya. Saya menunggu 4,5 jam di tanah Eropa yang sedang 42 derajat," ujar Butet.
Sesampainya di Vatikan, Butet dan istri masih harus menunggu di Piazza San Pietro atau Lapangan Santo Petrus. Lokasi itu merupakan alun-alun besar di depan Basilika Santo Petrus, tempat Paus biasa berkeliling memberikan berkat kepada umat Katolik. Tempat itu biasanya dipenuhi ribuan orang karena setiap Rabu Paus keluar untuk menemui umat Katolik dari seluruh dunia, mulai dari orang sakit hingga pasangan yang ingin menikah.
"Saya yang beragama saja tidak jelas, bahkan saya sering mengaku lebih baik tidak beragama karena banyak di Indonesia aneh, orang-orang yang mengaku beragama rajin korupsi begitu di sidang pakai hijab. Jadi, saya mendingan mengaku tidak beragama," kata Butet.
Butet menceritakan perbincangannya dengan Paus Leo XIV. Pertama, ia mengenalkan diri dan istrinya yang merupakan seorang Muslim taat, seorang hajah, serta menerangkan 14 lukisan Jalan Salib dengan Punakawan Jawa. Setelah itu, istri Butet mengeluarkan puluhan kalung Rosario yang dibawa di tas untuk diberkati Paus. Setelah menjabat dan mencium tangan Paus, Butet mengaku mendapat pencerahan.
"Saya mendapat pencerahan, saya merasa berhasil menciptakan sejarah untuk diri saya. Dan ini bayangan saya seperti melawan Jalan Salib, sengsara 4,5 jam dibakar matahari 42 derajat, bawa botol kecil, minumnya seseruput, tidak kencing saya," ujar Butet.
Butet mengaku tidak berani melakukan banyak hal lain karena khawatir kehilangan momentum besar tersebut. Ia sadar, kesempatan yang didapatkannya sangat langka, bahkan orang paling berkuasa di dunia belum tentu mendapat momen tersebut.
"Saya hanya ingin mendapatkan satu momentum yang luar biasa dan bersejarah untuk saya. Karena tidak semua orang bisa, bahkan orang sekaya apapun belum tentu bisa, Presiden Amerika Serikat (AS) saja ditolak, orang tidak bisa dengan kekayaan yang membeli kesempatan itu atau kekuasaan berapa besar, tidak bisa," kata Butet.
Artikel Terkait
Butet Kartaredjasa Ikuti Jejak Sang Ayah Temui Paus di Vatikan