Di laboratorium berkeamanan tinggi Institut Virus Uganda, para ilmuwan tengah mengembangkan senjata baru melawan malaria: nyamuk jantan hasil rekayasa genetika. Dengan memanipulasi satu gen, mereka berharap dapat menghentikan penyebaran penyakit yang setiap menitnya merenggut nyawa seorang anak di bawah lima tahun itu.
Asisten laboratorium Angela Nakamura dengan hati-hati meraih sebuah boks yang dibungkus jaring nyamuk. Di dalamnya, ratusan nyamuk Anopheles berdengung mencari darah. "Sebelum mulai, aku harus memastikan mematuhi aturan keselamatan," ujarnya, "termasuk memakai sarung tangan dan jas laboratorium untuk menghindari gigitan nyamuk!"
Di ruang depan, Doktor Jonathan Kayondo, kepala departemen penelitian serangga di institut tersebut, meneliti gambar mikroskopik larva nyamuk. Ia memimpin tim riset berjumlah 40 orang yang tergabung dalam konsorsium internasional bernama "Target Malaria". Lebih dari 200 peneliti dari AS, Inggris, Italia, dan Burkina Faso terlibat dalam proyek ini.
"Dengan memanipulasi satu gen, kami bisa meningkatkan jumlah nyamuk jantan," jelas Kayondo. Jika selama beberapa generasi lebih banyak larva jantan menetas dibanding betina, "maka transmisi malaria akan terhenti karena hanya nyamuk betina yang menggigit dan menyebarkan penyakit."
Malaria, yang juga dikenal sebagai demam rawa, adalah salah satu penyakit paling mematikan di daerah tropis. Menurut estimasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 263 juta orang positif malaria setiap tahunnya, dengan 94 persen kasus terjadi di Afrika. Di Indonesia, tercatat 443.530 kasus pada tahun 2022, dan 89 persen di antaranya dilaporkan dari Provinsi Papua.
Proyek ini masih dalam tahap awal. Rekayasa genetik dilakukan di laboratorium Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di AS, dan larva hasil rekayasa telah diterbangkan ke Uganda dalam kotak berkeamanan tinggi untuk uji coba di alam bebas. "Modifikasi gen mungkin bagian termudah," kata Kayondo. Setelah gen diubah, nyamuk harus melewati berbagai studi keamanan untuk memastikan modifikasi hanya mempengaruhi penularan malaria tanpa menimbulkan efek samping, seperti meningkatkan penularan penyakit lain.
Sejarah Kelam dan Harapan Baru
Institut Virus Uganda terletak di dataran tinggi dengan pemandangan Danau Victoria. Dari jendela, Kayondo menunjuk ke Kepulauan Kalangala, tempat Robert Koch, penerima Nobel asal Jerman, meneliti penyakit tidur pada tahun 1906. Kala itu, untuk menguji obatnya, peneliti Jerman mendirikan kamp konsentrasi dan memaksakan obat kimia beracun kepada penduduk Afrika.
Di pulau yang sama, Kayondo berencana melepas nyamuk hasil rekayasa genetika dalam beberapa tahun mendatang. "Dalam studi final, kami harus membuktikan efektivitas lewat percobaan lapangan," jelasnya. "Kami masih merencanakan jalannya studi. Jika percobaan lapangan disetujui, kami mungkin siap dalam dua atau tiga tahun."
Perlombaan Melawan Waktu
Pada tahun 2016, PBB menetapkan target pengurangan kasus malaria global setidaknya 90 persen pada tahun 2030. Namun perubahan iklim dan kenaikan suhu memperluas penyebaran malaria ke Eropa dan Amerika Utara. Pada tahun 2023, CDC mengeluarkan peringatan setelah enam orang di Florida dan Texas terinfeksi malaria.
Scott Filler, Koordinator Senior Penyakit di Dana Global untuk Melawan AIDS, Tuberkulosis dan Malaria, menekankan pentingnya pendekatan inovatif. "Sejarah mengajarkan bahwa kita bisa kalah dalam perlombaan biologi, jika terus hanya mengobati malaria," ujarnya. "Karena parasit terus mengembangkan resistensi terhadap pengobatan yang ada."
Riset di Uganda mungkin menunjukkan bahwa harapan terbesar dalam perang melawan malaria justru ada pada makhluk mungil itu sendiri.