Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan dalam sepekan terakhir. Pada Jumat (10/7/2026), rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp18.065 per dolar AS, melemah 0,35 persen dibandingkan hari sebelumnya. Secara keseluruhan, pelemahan rupiah dalam sepekan mencapai 0,39 persen.
Data Bloomberg mencatat, rupiah memulai pekan dengan posisi Rp17.995 per dolar AS pada Senin (6/7/2026), melemah 0,18 persen. Sementara itu, kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) pada hari terakhir perdagangan justru menguat ke Rp18.069 per dolar AS, meskipun secara mingguan tetap melemah 0,60 persen.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuabi menilai, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen domestik dan global. Di dalam negeri, pasar bereaksi negatif terhadap laporan Fitch Ratings yang menyoroti rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia. "Perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi," ujar Ibrahim dalam risetnya.
Fitch memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah, serta memperbesar risiko penurunan peringkat utang Indonesia. Peringkat utang Indonesia saat ini masih dipertahankan di level BBB, namun prospeknya direvisi menjadi negatif sejak Maret 2026.
Selain itu, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.
Sentimen Global Ikut Tekan
Dari sisi global, Ibrahim menyoroti memanasnya eskalasi geopolitik antara AS dan Iran. Presiden Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Iran merespons dengan menyerang situs militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan AS sebelumnya terhadap infrastruktur Iran.
Selain itu, risalah rapat Federal Reserve (Fed) bulan Juni yang dirilis pekan ini menunjukkan perpecahan di antara para pembuat kebijakan mengenai perlunya kenaikan suku bunga tahun ini. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi yang kaku meningkat, yang dapat memicu kenaikan suku bunga di akhir tahun jika tekanan harga tidak mereda.
Ibrahim memprediksi, rupiah pada perdagangan Senin pekan depan akan bergerak melemah dalam rentang Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS. Untuk sepekan ke depan, pergerakan diperkirakan berada di kisaran Rp17.870 sampai Rp18.300 per dolar AS.
Artikel Terkait
Rupiah Terperosok ke Rp18.000-an, Tertekan Sentimen Domestik dan Global
Airlangga: Fundamental Ekonomi Tetap Kuat Meski Rupiah Tembus Rp18.000 per USD
Rupiah Menguat ke Rp18.065 per Dolar AS di Tengah Ketegangan Timur Tengah
IHSG Ditutup Menguat, Rupiah Perkasa di Tengah Bursa Asia Hijau