Rupiah Terperosok ke Rp18.000-an, Tertekan Sentimen Domestik dan Global

- Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:00 WIB
Rupiah Terperosok ke Rp18.000-an, Tertekan Sentimen Domestik dan Global

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terperosok ke level psikologis Rp18.000-an pada pekan pertama Juli 2026. Dalam sepekan perdagangan 6–10 Juli, rupiah di pasar spot melemah 0,39 persen dan ditutup di Rp18.065 per dolar AS pada Jumat (10/7).

Data Bloomberg menunjukkan rupiah memulai pekan dengan pelemahan tipis 0,18 persen ke Rp17.995 pada Senin (6/7). Koreksi semakin dalam pada akhir pekan, dengan penurunan 0,35 persen yang membawa kurs ke Rp18.065. Sementara itu, kurs Jisdor Bank Indonesia juga mencatat pelemahan 0,60 persen secara mingguan, meski pada Jumat sempat menguat tipis ke Rp18.069.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuabi menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari sentimen domestik dan global. Ia menyebut pasar merespons negatif laporan terbaru Fitch Ratings yang menyoroti rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia.

"Namun demikian, perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi," ujar Ibrahim dalam risetnya.

Fitch memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah, sekaligus memperbesar risiko penurunan peringkat utang Indonesia. Hingga Maret 2026, peringkat utang Indonesia masih bertahan di level BBB, namun prospeknya direvisi menjadi negatif.

Selain itu, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik melaporkan defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun.

Dari sisi global, Ibrahim menyoroti memanasnya eskalasi geopolitik AS-Iran. Presiden Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Iran merespons dengan menyerang situs militer AS di Bahrain dan Kuwait. Ketegangan ini meningkatkan ketidakpastian pasar.

Risalah rapat Federal Reserve pada Juni juga menunjukkan perpecahan di antara para pembuat kebijakan mengenai perlunya kenaikan suku bunga tahun ini. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi yang kaku semakin meningkat, yang dapat memicu kenaikan suku bunga di akhir tahun.

Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Senin pekan depan akan bergerak melemah dalam rentang Rp18.060–Rp18.110 per dolar AS. Untuk sepekan ke depan, ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.870–Rp18.300 per dolar AS.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags