Viking Row dan Semangat Norwegia di Piala Dunia 2026: Sejarah Jadi Senjata Moral

- Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:20 WIB
Viking Row dan Semangat Norwegia di Piala Dunia 2026: Sejarah Jadi Senjata Moral

Di Piala Dunia 2026, Norwegia tidak hanya tampil sebagai tim kuda hitam, tetapi juga membawa identitas Viking yang membakar semangat juang. Sorakan Viking Row gerakan mendayung kapal yang viral menjadi simbol kebangkitan moral tim, menghubungkan pemain dan pendukung dengan sejarah leluhur mereka sebagai pelaut dan pejuang tangguh.

Bagi Norwegia, yang bukan kekuatan sepak bola tradisional, membangun moral menjadi kunci. Mereka memanfaatkan sejarah Viking untuk mengingatkan bahwa nenek moyang mereka pernah menaklukkan separuh Eropa. Identitas ini menjadi pengganda psikologis yang menghilangkan rasa takut kalah dan menggantinya dengan keberanian.

Sejarah Viking sendiri bermula dari masalah kurangnya lahan subur di Norwegia. Pada abad ke-8 hingga ke-11, orang Norse nenek moyang Norwegia, Denmark, dan Swedia menjadi bajak laut yang menjarah wilayah Eropa, terutama Inggris. Mereka mendirikan Danelaw, wilayah jajahan di Inggris yang menggunakan hukum Denmark. Namun, dominasi Viking berakhir setelah kekalahan telak dalam Pertempuran Stamford Bridge pada 1066. Ironisnya, beberapa minggu kemudian, Inggris ditaklukkan oleh bangsa Normandia yang merupakan keturunan Viking yang telah menetap di Prancis.

Ketika Norwegia menghadapi Inggris di perempat final Piala Dunia 2026, netizen ramai membuat meme yang mengaitkannya dengan Pertempuran Stamford Bridge. Lebih ironis lagi, bintang utama Norwegia, Erling Haaland, lahir di Leeds wilayah yang dulunya merupakan bagian dari Danelaw.

Norwegia tidak malu dengan sejarah Viking yang kejam. Mereka justru bangga dan mempromosikannya di panggung dunia. Sebelum pertandingan, para pemain memukul drum dan bersorak bersama penggemar, menciptakan ritual yang menyatukan seluruh negeri dalam misi nasional. Hasilnya, Norwegia berhasil melaju ke perempat final untuk pertama kalinya, dan citra negara itu melambung.

Bahkan Presiden Korea baru-baru ini bertemu Perdana Menteri Norwegia dan ikut melakukan Viking Row. Ini menjadi bentuk soft power yang baru. Norwegia telah membuktikan bahwa negara kecil bisa mengguncang panggung dunia jika mempertahankan identitas nasional. Tidak perlu meniru orang lain, cukup percaya diri dengan siapa diri kita sebenarnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags